masrafli.com

Senin, 18 Januari 2021

Langkah-Langkah Penginderaan Jauh

Artikel kali ini akan membahas mengenai Langkah-Langkah Penginderaan JauhLangkah-langkah pengindraan jauh pada umumnya meliputi enam tahap. Secara garis besar, tahap-tahap tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Perumusan dan Tujuan

Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan, misalnya erosi tanah, penebangan hutan, dan pencemaran lingkungan. Masalah harus dirumuskan dengan jelas, karena hal itu merupakan landasan bagi penyusunan tujuan yang ingin dicapai.

2. Evaluasi Kemampuan

Setelah masalah dan tujuan dirumuskan dengan jelas, langkah berikutnya adalah penelitian terhadap kemampuan dalam pelaksanaannya. Yang perlu dinilai di antaranya kemampuan tim pelaksananya, alat dan perlengkapan, waktu, serta dana yang tersedia. Antara kemampuan dan tujuan harus sesuai. Bila tidak sesuai, kemampuan harus ditingkatkan atau tujuannya harus ditinjau kembali, misalnya dengan penyederhanaan masalah atau tujuan,

3. Pemilihan Cara Kerja

Cara kerja yang dipilih harus sesuai dengan tujuan, jangan sampai bertolak belakang. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai masalah serta objek yang akan diteliti.

4. Tahap persiapan

a. Penyiapan Data Acuan

Data acuan ialah data yang bukan berasal dari citra pengindraan jauh, akan tetapi data itu diperlukan dalam interpretasi citra. Data acuan itu dapat berupa monografi daerah, laporan penelitian, kertas kerja, majalah atau buku, dan peta. Data-data tersebut diperlukan untuk menunjang terhadap interpretasi citra dan pengindraan jauh.

b. Penyiapan Data Pengindraan Jauh

Data pengindraan jauh ialah hasil perekaman objek dengan menggunakan sensor buatan, misalnya: berupa citra foto, citra nonfoto, atau numerik. Data pengindraan jauh yang  akan dipersiapkan harus sesuai dengan tujuan dan kemampuan penelitian.

c. Penyiapan Mosaik

Mosaik foto ialah serangkaian foto dari suatu daerah yang disusun menjadi satu lembar foto. Penyusunan ini dimaksudkan untuk menggambarkan daerah penelitian secara utuh.

d. Orientasi Medan

Pekerjaan ini dilakukan dengan observasi langsung ke medan penelitian, yang bertujuan untuk mencocokkan wujud medan (objek) yang tergambar di foto dengan objek yang sebenarnya.

Orientasi medan perlu dilakukan apabila:

  1. tidak adanya data acuan, dan
  2. objek yang tergambar pada foto sulit diinterpretasi.

5. Interpretasi data

Data pengindraan jauh dapat berupa angka-angka (data numerik) atau pun berupa data visual. Dalam langkah ini, data tersebut diinterpretasi atau dianalisis menjadi informasi yang nantinya diperlukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

6. Laporan

Laporan hasil penelitian pengindraan jauh sangat bergantung pada jenis penelitiannya. Laporan hasil penelitian murni akan berbeda dengan hasil penelitian terapan. Perbedaan tersebut, terutama terletak pada analisisnya. Bagi penelitian murni, analisisnya berkisar pada bidang pengindraan jauh itu sendiri. Sedangkan bagi penelitian terapan, diarahkan untuk membantu terhadap suatu kepentingan tertentu.

Minggu, 06 Desember 2020

Norma Sosial: Definisi, Jenis, Fungsi, dan Ciri

Norma sosial adalah aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong, bahkan menekan anggota masyarakat untuk mencapai nilai sosial.

Norma Sosial berdasarkan berat dan ringannya sanksi

1. Usage (Tata Cara)

Norma ini menunjuk pada bentk perbuatan yang sanksinya paling ringan. Pelanggaran terhadap norma ini hanya menimbulkan celaan. Contohnya adalah cara makan dengan tangan kanan.

2. Folkways (Kebiasaan)

Kebiasaan adalah cara yang dilakukan berulang-ulang. Misalnya mengucapkan salam apabila masuk rumah. Sanksinya lebih berat apabila melanggar dapat ditegur, disindir, atau dijulidin tetangga.

3. Mores (Tata Kelakuan) 

Norma ini bersumber pada filsafat, ajaran gama, ataupun keyakinan dan ideologi yang dianut masyarakat. Orang yang melanggar dicap sebagai penjahat. Contohnya adalah dilarang berjudi, mencuri, dan menggunakan narkoba.

4. Customs (Adat Istiadat)

Adat Istiadat merupakan peraturan tidak tertulis yang mempunyai sanksi yang tegas. Contohnya adalah perceraian di salah satu masyarakat di Lampung dapat dikeluarkan dari anggota adat.

Norma Sosial berdasarkan sumbernya

1. Norma Agama

Norma agama berisi aturan-aturan yang bersumber dari ajaran agama.

2. Norma peraturan yang berkaitan dengan interaksi sosial

Norma etika berisi segala peraturan yang berkaitan dengan interaksi sosial

3. Norma Kesusilaan

Norma kesusilaan berisi ketentuan yang bersumber pada hati nurani, moral, atau filsafat hidup.

4. Norma Hukum

Norma hukum berisi peraturan tertulis yang bersumber pada kitab Undang-Undang Negara.

Fungsi Norma Sosial

Berikut ini adalah fungsi norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain sebagai berikut.

  1. Sebagai alat kontrol sosial di masyarakat
  2. Sebagai wahana untuk menertibkan kehidupan sosial
  3. Sebagai pedoman bertingkah laku di masyarakat.

Ciri-Ciri Norma Sosial

Berikut ini adalah ciri-ciri norma sosial, antara lain sebagai berikut.

  1. Pada umumnya tidak tertulis
  2. Hasil dari kesepakatan masyarakat
  3. Terdapat sanksi yang harus diterima jika melanggar norma
  4. Norma sosial juga dapat mengalami perubahan, sesuai dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan penganutnya
  5. Warga masyarakat sebagai pendukung dan yang melaksanakan sangat menaatinya

Konsep Alienasi

Alienasi atau keterasingan merupakan kondisi ketika individu merasa terpisah atau terputus dari masyarakat dan kebudayaanya sehingga nilai dan norma masyarakat tidak lagi memberikan makna kepada individu tersebut. Menurut Karl Marx, alienasi berarti suatu keadaan manusia yang dikuasai oleh kekuatan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Akibatnya, individu itu terhalangi untuk menjadi manusia seutuhnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alienasi antara lain:

  1. Kehilangan makna hidup
  2. Norma sosial yang melemah
  3. Faktor keluarga (sistem keluarga, konflik, miseducation)
  4. Faktor lingkungan/ pergaulan terkait dengan kepribadian dan perilaku sosial)
Aspek-aspek dalam Alienasi antara lain:
  1. Meaninglessness atau tidak berarti
  2. Powerlessness atau ketidakberdayaan
  3. Social isolation atau terisolasi secara sosial
  4. Self-estrangement atau keterasingan diri
  5. Normlessness atau tidak ada norma




Minggu, 29 November 2020

6 Foto Bae Suzy dan Nam Joo Hyuk di Sandbox Drama Start-Up

Siapa nih disini yang ngikutin drama yang lagi populer ini, ya benar Start-Up. Drama yang sedang banyak diperbincangkan dimana-mana bahkan sampai trending twitter setiap episode-episode mereka rilis di hari sabtu dan minggu.

Drama start-up sendiri mengisahkan tentang seorang wanita tangguh Seo Dal-mi yang diperankan oleh Bae Suzy yang bercita-cita menjadi Steve Jobs dari Korea. Walaupun bukan lulusan sarjana, tetapi dia memiliki pengalaman yang banyak dari pekerjaan paruh waktunya. 

Lawan main Seo Dal-mi yakni Nam Do-san yang diperankan oleh Nam Joo Hyuk, Nam Do-san sendiri adalah pendiri Samsan Tech, dan menjadi kebanggan keluarga karena ia jago matematika dan pernah mendapat juara termuda. Namun, perusahaan yang dijalankannya tidak mengalami peningkatan karena tidak adanya investor.

Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka? mending nonton aja ya, kalian bisa menontonnya di Netflix. Berikut kita akan melihat berbagai foto kedekatan Bae Suzy dan Nam Joo Hyuk dalam drama Start-Up.

1. Kang Han-na, Nam Joo-hyuk, Bae Suzy, dan Kim Seon-ho berjalan beriringan, keren banget kan ya mereka!

https://twitter.com/CJnDrama

2. Nam Joo-hyuk dan Bae Suzy tertidur di kantor Samsan Tech yang lama, dengan sinar matahari diatasnya kelihatan sweet banget kan mereka.

https://twitter.com/CJnDrama

3. Bae Suzy/Seo Dal-mi ketika sedang presentasi di hari demo sandbox, tetap terlihat cantik bukan dengan jas hitamnya mbak suzy!

https://twitter.com/CJnDrama

4. Nam Joo-hyuk/Nam Do-san ketika presentasi juga nih di hari demo Sandbox, dari tatapannya sih pasti ngeliatin Seo Dal-mi.

https://twitter.com/CJnDrama

5. Nah ini potret keseluruhan ketika Samsan Tech sedang presentasi di Hari Demo Sandbox, dari jauh aja Bae Suzy tetap terlihat cantiknya ya.

https://twitter.com/CJnDrama

6. Woahh, ini ketika Samsan Tech memenangkan hari demo sandbox ke-12, selamat buat Samsan Tech!

https://twitter.com/CJnDrama


Jadi mana nih, foto favorit kalian? yuk tulis di kolom komentar



Selasa, 17 November 2020

Kondisi Ekonomi dan Politik Sebelum Reformasi

Reformasi merupakan perubahan yang radikal dan menyeluruh untuk perbaikan. Perubahan yang mendasar atas paradigma baru atau kerangka berpikir baru yang dijiwai oleh suatu pandangan keterbukaan dan transparansi merupakan tuntutan dalam era reformasi.

Reformasi menghendaki adanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika terjadi krisis ekonomi, politik, hukum dan krisis kepercayan, maka seluruh rakyat mendukung adanya reformasi dan menghendaki adanya pergantian pemimpin yang diharapkan dapat membawa perubahan Indonesia di segala bidang ke arah yang lebih baik.

Source : Google

Perkembangan Politik Pasca Pemilu 1997

Di tengah-tengah perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara terjadilah ganjalan dalam kehidupan berpolitik menjelang Pemilu 1997 disebabkan adanya peristiwa 27 Juli 1996, yaitu adanya kerusuhan dan perusakan gedung DPP PDI yang membawa korban jiwa dan harta.

Tekanan pemerintah Orba terhadap oposisi sangat besar dengan adanya tiga kekuatan politik yakni PPP, GOLKAR, PDI, dan dilarang mendirikan partai politik lain. Hal ini berkaitan dengan diberlakukan paket UU Politik, yaitu:

  1. UU No. 1 Tahun 1985 tentang Pemilu,
  2. UU No. 2 Tahun 1985 tentang susunan dan kedudukan anggota MPR, DPR, DPRD yang kemudian disempurnakan menjadi UU No 5 Tahun 1995,
  3. UU No. 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya,
  4. UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Pertikaian sosial dan kekerasan politik terus berlangsung dalam masyarakat sepanjang tahun 1996, kerusuhan meletus di Situbondo, Jawa Timur Oktober 1996. Kerusuhan serupa terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat Desember 1996, kemudian di berbagai daerah di Indonesia.

Pemilu 1997, dengan hasil Golkar sebagai pemenang mutlak. Hal ini berarti dukungan mutlak kepada Soeharto makin besar untuk menjadi presiden lagi di Indonesia dalam sidang MPR 1998. Pencalonan kembali Soeharto menjadi presiden tidak dapat dipisahkan dengan komposisi anggota DPR/MPR yang mengandung nepotisme yang tinggi  bahkan hampir semua putra-putrinya tampil dalam lembaga negara ini. Terpilihnya kembali Soeharto menjadi Presiden RI dan kemudian membentuk Kabinet Pembangunan VII yang penuh dengan ciri nepotisme dan kolusi. 

Mahasiswa dan golongan intelektual mengadakan protes terhadap pelaksanaan pemerintahan ini. Di samping hal tersebut di atas sejak 1997 Indonesia terkena imbas krisis moneter di Asia Tenggara. Sistem ekonomi Indonesia yang lemah tidak mampu mengatasi krisis, bahkan kurs rupiah pada 1 Agustus 1997 dari Rp2.575; menjadi Rp5.000; per dolar Amerika. Ketika nilai tukar makin memburuk, krisis lain menyusul yakni pada  akhir tahun 1997 pemerintah melikuidasi 16 bank. Kemudian disusul membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bertugas mengawasi 40 bank bermasalah. 

Kepercayaan dunia terhadap kepemimpinan Soeharto makin menurun. Pada April 1998, 7 bank dibekukan operasinya dan nilai rupiah terus melemah sampai Rp10.000 perdolar. Hal ini menyebabkan terjadinya aksi mahasiswa di berbagai kota di seluruh Indonesia. Keadaan makin kacau ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan. Tanggal 4 Mei 1998 aksi anti Soeharto makin meluas, bahkan pada tanggal 12 Mei 1998 aksi mahasiswa Trisakti berubah menjadi bentrokan fisik yang membawa 4 kurban meninggal yakni Elang Mulia, Hari Hartanto, Hendriawan, dan Hafiadin Royan.

Kamis, 12 November 2020

Pengertian dan Tipe Lembaga Sosial

Istilah lembaga berasal dari kata institution yang menunjukan pada pengertian tentang sesuatu yang telah mapan. Dalam pengertian sosiologis lembaga dapat dilukiskan sebagai suatu organ yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat. Lembagalembaga pada mulanya terbentuk dari suatu kebiasaan yang dilakukan terus menerus sampai menjadi adat istiadat kemudian berkembang menjadi tata kelakuan (mores).

<a href="http://www.freepik.com">Designed by rawpixel.com / Freepik</a>

Kebiasaan dan tata pelakuan merupakan cara manusia bertingkah laku yang indah mempunyai struktur dalam kehidupan masyarakat. Seiring dari uraian diatas tentang definisi lembaga ada beberapa tokoh mengemukakan tentang lembaga sebagai berikut.

1. R.M Mac Iver dan C.H Page, dalam bukunya yang berjudul society, bahwa lembaga merupakan bentuk-bentuk atau kondisi-kondisi prosedur yang mapan, yang menjadi karakteristik bagi aktivitas kelompok. Kelompok yang melaksanakan patokan-patokan tersebut, disebut asosiasi.

2. Berger, menamakannya sebagai suatu prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak melalui jalan yang dianggap sesuai dengan keinginan masyarakat.

3. Mayor Polak JBAF. (1979), menyatakan bahwa lembaga atau social institution, adalah suatu kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting.

4. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (1964), menerjemahkan social institution sebagai ”lembaga kemasyarakatan”. Kata lembaga dianggap tepat, oleh karena kecuali menunjuk pada suatu bentuk, juga menyandang pengertian abstrak tentang adanya kaidahkaidah.

Lembaga itu mempunyai tujuan untuk mengatur antar hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting. Sumber menjelaskan bahwa lembaga itu melibatkan bukan saja pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi keperluan manusia tetapi juga pola organisasi untuk melaksanakannya. Kebutuhan itu antara lain: mencari rezeki, prokreasi atau melanjutkan jenis memenuhi keperluan roh, dan menjaga ketertiban.

Dalam kaitannya dengan uraian diatas seorang tokoh yang bernama W. Hamilton, bahwa lembaga merupakan tata cara kehidupan kelompok yang apabila dilanggar akan dijatuhi berbagai derajat sanksi.

Soedjono Soekamto (1982) menyimpulkan menurut sudut pandang sosiologis dengan meletakkan institusi sebagai lembaga kemasyarakatan, yaitu sebagai suatu jaringan daripada  proses-proses hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia yang berfungsi untuk memelihara hubungan-hubungan tersebut serta pola-polanya, sesuai dengan kepentingan-kepentingan manusia dan kelompoknya.

Summer melihatnya dari sudut kebudayaan, mengartikan lembaga kemasyarakatan sebagai perbuatan, cita-cita, sikap, dan perlengkapan kebudayaan, yang mempunyai sifat kekal serta yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Pentingnya adalah agar ada keteraturan dan integrasi dalam masyarakat.

Dari beberapa uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa lembaga adalah proses-proses berstruktur (tersusun) untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.

Tipe-Tipe Lembaga Sosial

Lembaga itu mempunyai tujuan untuk mengantur antara hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting. Sebelum pada tipe-tipe lembaga sosial kita ulas tentang tipe pengendalian sosial.

Pengendalian sosial memiliki dua tipe yaitu pengendalian sosial resmi (formal) dan pengendalian sosial tidak resmi (informal).

a. Pengendalian sosial formal

Pengendalian sosial formal adalah pengendalian sosial yang pengawasannya dilakukan oleh negara atau badan-badan yang mempunyai kedudukan tetap. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan prosedur yang jelas.

b. Pengendalian sosial informal

Pengendalian sosial informal adalah pengendalian sosial yang menunjukkan pada seperangkat norma sosial yang memaksa orang untuk bertindak sesuai dengan kesepakatan, namun tidak ada lembaga pendukung yang melaksanakannya secara tetap.

Dua tipe pengendalian sosial diatas dilakukan oleh sejumlah lembaga atau pranata sosial. Contoh lembaga atau pranata sosial adalah sebagai berikut.

  1. Kepolisian
  2. Pengadilan
  3. Tokoh adat
  4. Tokoh agama
  5. Tokoh masyarakat.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tipe–tipe lembaga sosial itu ada yang bersifat formal dan yang bersifat informal.



Minggu, 08 November 2020

Integrasi dan Disintegrasi

Pengaruh perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat yang bersifat positif berarti akan melahirkan kondisi yang integratif sedangkan yang membawa pengaruh negatif akan menciptakan kondisi hidup yang disintegratif atau disorganisasi. Disintegrasi yaitu memudarnya kesatupaduan dalam organisasi dan solidaritas antara yang kolektif, golongan, dan kelompok dalam suatu masyarakat. Situasi disintegrasi dipengaruhi oleh timbulnya ketidaksepahaman diantara anggota, tidak patuh terhadap norma-norma yang berlaku, tidak berfungsinya sanksi-sanksi, menurunnya kewibawaan tokoh-tokoh masyarakat dan sebagainya.

Bentuk perubahan sosial yang cenderung membawa kondisi disintegrasi yaitu perubahan sosial yang berbentuk revolusi dan perubahan yang pengaruhnya besar serta perubahan yang tidak dikehendaki contohnya antara lain sebagai berikut:

1. Disintegrasi masyarakat karena bentuk perubahan yang berlangsung secara tidak sengaja. Contoh adanya tindak kriminal, kesenjangan sosial, dan pengangguran.

2. Disintegrasi masyarakat karena bentuk perubahan yang pengaruhnya besar, contohnya proses industrialisasi dan akan menimbulkan cultural log (kesenjangan kebudayaan) contohnya teknologi pertanian yang begitu pesat, menurunnya sistem pengolahan lahan pertanian, dan mekanisasi dengan diperkenalkannya pengolahan dengan traktor. Proses industrialisasi juga dapat memunculkan kelompok majikan dan buruh. Bila kedua lapisan tersebut tidak dibina proses interaksinya dengan baik, maka akan muncul disintegrasi. Misalnya, konflik antara majikan dengan buruh yang akan mengganggu jalannya roda perusahaan. Selain itu juga, disintegrasi terjadi dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat perubahan sosial, misalnya konsumelisme, individualistis, hedomisme, dan materialistis.

3. Disintegrasi masyarakat karena perubahan sosial budaya secara revolusi. Revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan radikal. Melalui revolusi fisik yaitu peperangan yang terjadi pada suatu negara contohnya perang Israel dan Libanon, akan dapat merusak struktur politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Setelah mengetahui tentang integrasi dan disintegrasi tentu kita ingin mengetahui bagaimana proses perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang akan kita pelajari pada bab ini.

1. Proses Perubahan Sosial

Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mengalami suatu proses dalam pembentukannya dan menimbulkan dampak atau akibat dalam kehidupan masyarakat yang akan diuraikan berikut ini:

a. Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan.

Keserasian masyarakat merupakan suatu keadaan diantara lembaga-lembaga kemasyarakatan yang utama. Setiap individu dalam masyarakat merasa tentram, disebabkan tidak adanya pertentangan dalam masyarakat dapat tercipta dari suatu keadaan yang tidak serasi.

b. Disorganisasi dan reorganisasi.

Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan suatu kesatuan fungsional sedangkan disorganisasi adalah suatu keadaan adanya ketidakserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan.

Integrasi atau disorganisasi dapat dirumuskan sebagai suatu proses adanya norma-norma dari nilai-nilai dalam masyarakat. Sedangkan reorganisasi adalah suatu proses pembentukan normanorma baru agar serasi dengan lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan.

c. Saluran-saluran perubahan sosial budaya

Saluran-saluran perubahan sosial merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Adapun saluran-saluran tersebut adalah lembaga kemasyarakatan dalam bidang ekonomi, bidang agama, bidang pendidikan, rekreasi, pemerintahan, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya lembaga kemasyarakatan yang pada waktu mendapatkan penilaian tertinggi dari masyarakat maka cenderung untuk menjadi saluran utama perubahan sosial. Perubahan lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawa akibat pada lembagalembaga kemasyarakatan lainnya. 

Sebab lembaga kemasyarakatan merupakan suatu sistem integrasi. Saluran-saluran berfungsi sebagai alat perkenalan agar suatu perubahan dapat diterima dan diakui serta digunakan oleh masyarakat. Begitu pula halnya dalam bidang pendidikan, tidak diskriminasi antara golongan-golongan. Setiap individu boleh memilih pendidikan berdasarkan yang disukai. Pada akhirnya perubahan ini berpengaruh pada pola perilaku dan nilainilai masyarakat Indonesia.

Menurut Prof. Soejono Soekanto, disintegrasi adalah proses pudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena adanya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat.

Situasi disintegrasi dipengaruhi oleh timbulnya ketidaksepahaman diantara anggota, tidak patuh terhadap norma-norma yang berlaku, menurunnya kewibawaan tokoh-tokoh masyarakat, dan tidak berfungsinya sanksi-sanksi dan sebagainya.

2. Gejala-gejala Disintegrasi Sosial

Disorganisasi sosial akan mendahului disintegrasi sosial. Adapun gejalanya sebagai berikut:

  1. Ada pertentangan norma-norma dalam masyarakat sehingga menimbulkan kebingungan bagi anggota masyarakat itu sendiri.
  2. Norma-norma masyarakat tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan masyarakat.
  3. Terjadi interaksi sosial yang ditandai dengan proses sosial yang disasosiatif.
  4. Tidak ada sanksi yang tegas bagi pelanggar.
  5. Tindakan-tindakan masyarakat sudah tidak lagi sesuai dengan normanorma masyarakat.
  6. Tidak ada persepsi atau persamaan pandangan diantara anggota masyarakat mengenai tujuan yang semula dijadikan pegangan atau patokan oleh setiap anggota masyarakat. Proses disintegrasi yang terjadi di masyarakat dapat menimbulkan akibat atau dampak bagi kehidupan di masyarakat.

Setelah mengetahui perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mengalami suatu proses dalam pembentukan dampak atau akibat dalam kehidupan masyarakat. Bagaimanakah bentuk-bentuk disintegrasi sosial yang terjadi di masyarakat? Akan dipelajari pada bab ini.

3. Bentuk-bentuk Disintegrasi Sosial

a. Pergolakan daerah

Pergolakan daerah adalah suatu gerakan rasial vertikal dan horizontal yang dilakukan serentak di suatu daerah untuk melaksanakan kehendak atau cita-citanya.

Sebab-sebab terjadinya pergolakan daerah:

  1. Tindakan sewenang-wenang dari pemegang kekuasaan.
  2. Perbedaan ideologi antar golongan dalam masyarakat.
  3. Adanya tokoh sebagai pendorong dari timbul pergolakan akibat pergolakan daerah.
  4. Adanya pertentangan-pertentangan sosial yang berkepanjangan dan sulit diatasi.

Akibat pergolakan daerah:

  1. Timbulnya berbagai kelawanan dan gangguan keamanan
  2. Mobilitas dan aktivitas masyarakat terganggu.
  3. Terjadinya perubahan-perubahan yang cenderung negatif terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat.
  4. Merugikan diri sendiri, masyarakat, dan negara baik yang bersifat material maupun non material.

b. Kenakalan remaja

Kenakalan remaja adalah semua perbuatan anak remaja (usia belasan tahun) yang berlawanan dengan ketertiban umum (nilai, norma yang diakui bersama) yang ditujukan pada orang, binatang, dan barang-barang yang dapat menimbulkan bahaya atau kerugian pada pihak lain (Simanjuntak, 1972:40).

Tanda-tanda anak nakal:

  1. Sekolah sering membolos.
  2. Kebut-kebutan, minum-minuman, suka coret-coret tembok.
  3. Berani terhadap orang tua atau guru.
  4. Siswa bandel, kasar, dan sulit diatur.
  5. Memakai dan memasuki jaringan pemakaian dan pengedar obat-obatan terlarang.
  6. Melakukan tindakan penyimpangan seksual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku, misalnya pemerkosaan dan kumpul kebo.
  7. Melakukan tindakan kriminalitas lainnya, misalnya merampok, membunuh, dan mencuri.

Faktor-faktor penyebab terjadinya kenalakan remaja

Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum dapat dikelompokkan kedalam dua faktor yaitu sebagai berikut.

a. Faktor intern

  1. Faktor kepribadian.
  2. Faktor kondisi fisik.
  3. Faktor status dan peranannya di masyarakat.

b. Faktor ekstern

  1. Kondisi lingkungan keluarga.
  2. Kontak sosial dari lembaga masyarakat kurang baik atau kurang efektif.
  3. Kondisi geografis atau kondisi alam fisik.
  4. Faktor kesenjangan ekonomi dan disintegrasi politik.
  5. Faktor perubahan sosial yang begitu cepat.

c. Kriminalitas

Kriminalitas adalah suatu tindakan kejahatan yang secara tegas melanggar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, dan selalu membawa kerugian baik fisik maupun psikis, baik bagi dirinya atau orang lain.

Menurut E. H Sutherland, proses-proses sosial yang dapat menyebabkan seseorang menjadi penjahat atau melakukan tindakan kriminalitas yaitu sebagai berikut.

  1. Faktor imitasi.

  2. Kekecewaan yang luar biasa.

  3. Kompensasi.

  4. Identifikasi.

  5. Pelaksanaan peranan sosial.

Contoh-contoh tindakan kriminalitas kejahatan:

  1. Pencurian, perampokan, korupsi, dan pembunuhan.

  2. Penganiayaan, pelanggaran ekonomi, perdagangan gelap, penghianatan negara, penculikan, penggunaan obat terlarang dan penggunaan senjata api secara ilegal


Sabtu, 07 November 2020

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

Perubahan yang terjadi di dalam masyarakat berupa perubahan norma-norma sosial, nilai-nilai sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat, susunan kekuasaan, dan wewenang. Begitu luasnya bidang-bidang perubahan itu sehingga perlu ditentukan batasan pengertian perubahan sosial.

<a href="http://www.freepik.com">Designed by rawpixel.com / Freepik</a>

Dilihat dari segi bentuknya perubahan sosial itu mempunyai beberapa bentuk:

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat

Perubahan yang berlangsung lambat (evolusi) merupakan perubahan yang memerlukan waktu yang lama, karena terjadi dengan sendirinya tanpa direncanakan dimana terdapat suatu rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Perubahan ini merupakan sebagian kecil usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan dan kondisi yang sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

Teori tentang evolusi sosial ini menurut Alex Inkeles dalam bukunya What is Sociology (1965) dapat di golongkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

a. Unilinear Theories Of Education

Yang mengatakan bahwa masyarakat (termasuk kebuda-yaannya) mengalami perkembangan dengan tahap-tahap tertentu. Bermula dari bentuk yang sederhana kemudian menuju yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna.

b. Universal Theory Of Evolution

Yang menyatakan bahwa perkembangan masyarakat itu tidak perlu mengikuti tahap-tahap tertentu yang tetap, karena perubahan sosial itu telah mengikuti garis evolusi tertentu. Prinsip teori ini di uraikan oleh Herbert Spencer yang menyebutkan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen, baik sistem maupun strukturnya.

c. Multilined Theories Of Evolution

Merupakan penggabungan dari kedua teori diatas. Teori ini lebih menekankan perlunya penelitian empiris terhadap perubahanperubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat secara ilmiah, seperti penelitian terhadap sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, sistem kekerabatan, dan sebagainya.

Selain perubahan bersifat lambat, perubahan sosial budaya juga bersifat atau berlangsung cepat dan menyangkut sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat yang dinamakan revolusi. Perubahan sosial budaya secara cepat sering menimbulkan disintegrasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Revolusi akan terjadi apabila terdapat syarat-syarat dibawah ini:

  1. Adanya suatu keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
  2. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
  3. Pemimpin tersebut mampu menampung aspirasi masyarakat untuk merumuskan program-program atau arah gerakan.
  4. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukan suatu tujuan kepada masyarakat.
  5. Harus ada momentum, untuk bergerak  pada saat yang tepat.

2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

Perubahan kecil yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur masyarakat yang tidak membawa pengaruh langsung atau kurang berarti bagi masyarakat. Perubahan mode rambut, mode pakaian, misalnya tidak akan membawa pengaruh kepada masyarakat secara keseluruhan, karena tidak menimbulkan perubahan terhadap lembaga kemasyarakatan. Berbeda dengan proses industrialisasi dapat membawa pengaruh besar terhadap keseluruhan unsur dalam masyarakat agraris. Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang terdapat dilingkungan masyarakat akan ikut terpengaruh.

3. Perubahan yang Dikehendaki (direncanakan) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki (tidak direncanakan)

Perubahan yang direncanakan (planned change), yaitu perubahanperubahan sosial yang sebelumnya telah dikehendaki atau diprogramkan terlebih dahulu oleh warga masyarakatnya. Pihak yang menghendaki perubahan-perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau kelompok orang yang dipercayai untuk melakukan perubahan oleh warga masyarakatnya.

Masyarakat dipengaruhi dengan cara-cara tertentu dan dengan perencanaan terlebih dahulu yang disebut rekayasa sosial, atau dinamakan perencanaan sosial (social planning).

Perubahan sosial yang tidak direncanakan berlangsung di luar pemikiran atau jangkauan masyarakat serta menimbulkan konsekuensi sosial yang tidak dikehendaki, seperti terjadinya masa penjajakan yang memunculkan diskriminasi sosial dalam masyarakat Indonesia.

Perubahan ini menimbulkan kekacauan atau hambatan-hambatan dalam masyarakat. Misalnya, akibat banjir yang melanda perkampungan mengakibatkan hancurnya pemukiman sehingga masyarakat harus pindah ketempat baru, begitu pula akibat Urbanisasi menimbulkan masalah tempat tinggal diperkotaan, yaitu adanya rumah-rumah kumuh. Begitu pila dengan terjadinya gempa bumi dan peperangan serta pertentangan antara suku.

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done