Masrafli

Jumat, 21 Februari 2020

Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Kera/Primata


Perbandingan antara manusia dengan kera ini untuk memudahkan pemahaman tentang manusia purba yang secara fisik berada antara manusia dengan primata. Secara umum berdasarkan ciri-ciri fisik persamaan dan perbedaan antara manusia dan kera adalah sebagai berikut.


1. Persamaan Manusia dengan Kera/Primata

Antara manusia dengan Kera memiliki persamaan ciri-ciri fisik sebagai berikut.
  • kedua mata sama-sama menghadap ke arah depan
  • sama sama memiliki kuku dilihat dari segi taksonomi
  • menggunakan kaki untuk berjalan ,secara umum memiliki 2 kaki untuk berjalan dan 2 tangan
  • memiliki tulang belakang (vertebrata)
  • memiliki kelenjar susu yang berada di dada
  • tungkai ibu jari dapat digerakkan ke segala arah dengan mudah
  • mempunyai bentuk rahim/simpleks
  • memiliki kerangka kepala
  • secara umum sama-sama memiliki bulu rambut

2. Perbedaan Manusia dengan Kera/Primata
Perbedaan ciri-ciri fisik antara manusia dengan kera antara lain sebagai berikut.
  • ukuran otak manusia lebih besar, sedangkan kera memiliki ukuran otak yang lebih kecil
  • kera tidak mempunyai lekukan bibir, sedangkan manusia mempunyai lekukan bibir
  • manusia masuk ke familia hominidae, sedangkan kera termasuk familia pongidae
  • kera memiliki tangan yang lebih panjang daripada kaki kera, sedangkan manusia tidak
  • struktur/susunan hemoglobin berbeda
  • ukuran tubuh berbeda, manusia lebih ramping
  • tulang belakang (kaki) manusia lebih panjang dari tungkai depan (tangan), sedangkan pada kera tungkai depan sama panjang atau lebih panjang dari tungkai belakang.

Kamis, 20 Februari 2020

Pengertian dan Sistem Penginderaan Jauh

Istilah penginderaan jauh saat ini bukan lagi merupakan hal asing. Jika Anda sering memerhatikan berita baik dari televisi maupun media cetak, kata penginderaan jauh sering muncul. Di negara Indonesia sering disingkat dengan PJ dan Indraja. Di beberapa negara lain dikenal dengan sebutan Remote Sensing (Inggris), Teledetection (Prancis), Fernerkundung (Jerman), Sensoriamento Remota (Portugis), Distansionaya (Rusia), dan Perception Remota (Spanyol).



Pada awal perkembangannya, penginderaan jauh hanya berfungsi sebagai teknik atau cara untuk mendapatkan data dari permukaan bumi yang dilakukan tanpa harus kontak dengan permukaan bumi. Dalam perkembangan selanjutnya, penginderaan jauh sering diposisikan sebagai suatu ilmu.


Everett dan Simonett memberikan batasan bahwa penginderaan jauh adalah suatu ilmu karena di dalamnya terdapat suatu sistematika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi. Ilmu ini harus dapat dipadukan dengan beberapa ilmu lain, seperti geologi, geo morfologi, geodesi, meteorologi, tanah, dan perkotaan.


Lillesand dan Kiefer (1994) mengemukakan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk mendapatkan informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji.


Alat yang dimaksud tidak berhubungan langsung dengan objek, yaitu alat yang pada waktu perekaman objek tidak ada di permukaan bumi, tetapi berada di angkasa maupun luar angkasa. Oleh karena itu, dalam proses perekaman menggunakan wahana atau media pembantu seperti satelit, pesawat udara, dan balon udara. Data hasil penginderaan jauh sering dinamakan citra.


Usia pengetahuan mengenai penginderaan jauh sebenarnya masih relatif muda. Namun, pemakaian penginderaan jauh cukup pesat. Pemakaian penginderaan jauh itu antara lain untuk men dapatkan data atau informasi yang tepat, singkat, dan akurat dari seluruh pelosok Indonesia. Data dari citra sangat penting untuk pembangunan, seperti mendeteksi dan menginventarisasi sumber daya alam, daerah banjir, kebakaran hutan, sebaran permukiman, dan landuse. 


a. Citra

Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu  objek yang sedang diamati sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau. Sebagai contoh, memotret bunga di taman. Citra taman di halaman rumah yang berhasil dibuat merupakan citra taman tersebut. 

Proses pembuatan citra dengan cara memotret objek dapat dilakukan dengan arah horisontal maupun vertikal dari udara (tampak atas). Hasil citra secara horisontal tampak sangat berbeda jika dibandingkan dengan hasil pemotretan dari atas atau udara. Gambar yang dicitra dengan arah horisontal menghasilkan citra tampak samping, sedangkan dengan arah vertikal menghasilkan citra tampak atas baik tegak maupun miring (obliq).


Menurut Hornby, citra adalah gambaran yang terekam oleh kamera atau alat sensor lain. Adapun menurut Simonet dkk, citra adalah gambar rekaman suatu objek (biasanya berupa gambaran pada citra) yang diperoleh melalui cara optik, elektro-optik, optikmekanik, atau elektro -mekanik.


b. Wahana

Wahana diartikan sebagai kendaraan yang membawa alat  pemantau. Wahana sering pula dinamakan mediator. Berdasarkan ketinggian peredarannya, posisi wahana dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
  1. Pesawat terbang rendah sampai medium (low to medium altitude aircraft)  ketinggian antara 1.000–9.000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkannya adalah citra foto (foto udara).
  2. Pesawat terbang tinggi (high altitude aircraft) dengan ketinggian sekitar 18.000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkannya adalah citra udara dan multispectral scanner data.
  3. Satelit dengan ketinggian antara 400–900 km dari permukaan  bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra satelit.

Sistem Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh sering dinamakan sebagai suatu sistem karena melibatkan banyak komponen.

Gambaran objek permukaan bumi merupakan hasil interaksi antara tenaga dan objek yang direkam. Tenaga yang dimaksud adalah radiasi matahari, tetapi jika perekaman tersebut dilakukan pada malam hari dibuat tenaga buatan yang dikenal sebagai tenaga pulsar. Penginderaan jauh yang hanya menggunakan sumber tenaga matahari sering pula dinamakan sistem penginderaan jauh pasif.

a. Sumber Tenaga untuk Penginderaan Jauh
Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan sensor buatan. Oleh karena itu, diperlukan tenaga peng hubung yang membawa data objek ke sensor. Data tersebut di kumpulkan dan direkam melalui tiga cara dengan variasi sebagai berikut.
  1. Distribusi daya (force), contohnya Gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya tarik bumi.
  2. Distribusi gelombang bunyi, contohnya Sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara dalam air.
  3. Distribusi gelombang elektromagnetik, contohnya kamera untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pantulan sinar. 
Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga buatan disebut  sistem penginderaan jauh aktif. Hal ini didasarkan bahwa perekaman objek pada malam hari diperlukan bantuan tenaga di luar matahari. 

Proses perekaman objek tersebut melalui pancaran  tenaga buatan yang disebut tenaga pulsar yang berkecepatan tinggi  karena pada saat pesawat bergerak tenaga pulsar yang dipantulkan oleh objek direkam. Oleh karena tenaga pulsar memantul, pantulan yang tegak lurus memantulkan tenaga yang banyak sehingga rona yang terbentuk akan berwarna gelap. Adapun tenaga pantulan pulsa radar kecil, rona yang terbentuk akan cerah.

Sensor yang tegak lurus dengan objek membentuk objek gelap disebut near range, sedangkan yang membentuk sudut jauh dari pusat perekaman disebut far range.

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga yaitu matahari yang merupakan sumber utama tenaga elektro magnetik alami. Penginderaan jauh dengan memanfaatkan tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem pasif. 

Radiasi matahari yang terpancar ke segala arah akan terurai menjadi  berbagai panjang gelombang (λ), mulai panjang gelombang dengan unit terkecil (pikometer) sampai dengan unit terbesar (kilometer).

Radiasi matahari yang terpancar kemudian bersentuhan dengan  objek di permukaan bumi,  kemudian dipantulkan ke sensor. Radiasi matahari juga dapat berupa tenaga dari objek yang dipancarkan ke sensor. 

Jumlah tenaga matahari yang mencapai bumi (radiasi) di pengaruhi oleh waktu, lokasi, dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima pada siang hari lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlahnya pada pagi atau sore hari,  bahkan malam hari. Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi berubah sesuai dengan perubahan musim dan peredaran semu tahunan matahari.

b. Atmosfer
Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang sehingga hanya sebagian kecil tenaga elektromagnetik yang dapat mencapai permukaan bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan jauh. Bagian spektrum elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai permukaan bumi disebut jendela atmosfer. Jendela atmosfer yang paling dikenal orang dan digunakan dalam penginderaan jauh hingga sekarang spektrum tampak yang dibatasi oleh gelombang 0,4 m hingga 0,7 m.

Tenaga elektromagnetik dalam jendela atmosfer tidak seluruhnya dapat mencapai permukaan bumi secara utuh karena sebagian terhalang oleh atmosfer. Hambatan ini terutama disebabkan oleh butir-butir yang ada di atmosfer, seperti debu, uap air, dan berbagai macam gas. Proses penghambatannya dapat terjadi dalam bentuk serapan, pantulan, dan hamburan.

c. Alat Pengindra
Alat pengindra disebut juga sensor. Sensor adalah alat yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan merekam suatu objek dalam daerah jangkauan tertentu. Setiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik. 

Kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil disebut  resolusi spasial. Semakin kecil objek yang dapat direkam oleh suatu sensor, semakin baik kualitas sensor tersebut dan semakin baik pula resolusi spasial dari citra. 

Jika memerhatikan proses perekamannya, sensor dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Sensor Fotografi
Pada sensor fotografi proses perekamannya berlangsung secara kimiawi. Tenaga elektromagnetik diterima dan direkam pada emulsifilm yang jika diproses akan menghasilkan citra. Jika pemotretan dilakukan dari pesawat udara atau wahana lainnya, citranya disebut foto udara. Jika pemotretannya dilakukan melalui antariksa, citranyadisebut citra orbital atau foto satelit.

2) Sensor Elektrik
Sensor elektrik menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyalelektrik. Alat penerima dan perekamannya berupa pita magnetik ataudetektor lainnya. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetik,kemudian diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital yang siap diolah dengan menggunakan komputer.

Proses perubahan data digital menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
  • Memotret data yang direkam dengan pita magnetik yangdiwujudkan secara visual pada layar monitor.
  • Menggunakan film perekam khusus, hasil akhirnya dinamakan citra penginderaan jauh.

d. Perolehan Data
Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan interpretasi secara visual dan dapat pula dengan cara digital, yaitu dengan menggunakan alat bantu komputer. Citra udara pada umumnya ditafsirkan secara manual, sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik dapat ditafsirkan secara manual maupun secara digital.

e. Pengguna Data
Pengguna (user) merupakan komponen penting dalam penginderaan jauh karena pengguna data ini dapat menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. 

Data yang dihasilkan dari sistem penginderaan jauh merupakan data yang sangat penting bahkan mungkin termasuk dalam kategori sangat rahasia untuk kepentingan orang banyak. Di negara-negara maju, data hasil penginderaan jauh dijadikan sebagai rahasia negara sehingga tidak sembarang pengguna yang dapat mengakses dan menggunakannya.

Referensi : Buku Geografi kelas XII oleh Bambang Utoyo

Rabu, 19 Februari 2020

Metode Penelitian dalam Sosiologi

Pada artikel kali ini, masrafli akan membahas mengenai dua metode penelitian yang sering digunakan dalam sosiologi. Metode penelitian tersebut adalah metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Berikut ini penjelasannya.




1. Metode Penelitian Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang dalam menganalisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka. Gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel, atau formula-formula tertentu yang cenderung menggunakan uji statistik. Menurut Creswell dalam Asmadi Alsa (2007), penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berwujud bilangan, yang dianalisis menggunakan statistik. Fungsinya untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik. Selain itu juga untuk melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu memengaruhi variabel yang lain.

Masalah penting dalam penelitian kuantitatif adalah kemampuan untuk melakukan generalisasi hasil penelitian, yaitu seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi. Hal ini karena secara tipikal penelitian kuantitatif selalu dikaitkan dengan proses yang dinamakan induksi enumeratif. Apakah induksi enumeratif itu? Induksi enumeratif adalah menarik kesimpulan berdasarkan angka dan melakukan abstraksi berdasarkan generalisasi.

Jika kamu akan melakukan suatu penelitian kuantitatif, maka ada beberapa langkah yang harus kamu ketahui atau kamu lakukan. Menurut Asmadi Alsa, langkah-langkah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif beserta spesifikasinya adalah sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi Masalah Penelitian
Dalam hal ini, penelitian kuantitatif perlu menguraikan kecenderungan atau menjelaskan keterkaitan antara variabel dan pengembangannya. Penjelasan ini menunjukkan bahwa peneliti tertarik dalam menentukan apakah satu atau lebih variabel yang mungkin memengaruhi variabel lain.

b. Melakukan Tinjauan Kepustakaan
Melakukan tinjauan terhadap kepustakaan dimaksudkan untuk menunjukkan pentingnya permasalahan penelitian itu untuk diteliti dan untuk mengidentifikasi arah penelitian. Mengidentifikasi arah penelitian berarti peneliti melakukan telaah pustaka dan mengidentifikasi variabel-variabel kunci yang layak dan berhubungan, serta memiliki kecenderungan potensial yang perlu diuji dalam penelitian. Di samping itu,
kegiatan tinjauan kepustakaan ini juga dimaksudkan untuk mengarahkan tujuan dan pertanyaan atau hipotesis penelitian.

c. Menetapkan Tujuan Penelitian
Pernyataan tentang tujuan, pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan hipotesis dalam penelitian kuantitatif harus sempit dan spesifik. Hal ini dikarenakan peneliti harus mengisolasi variabel-variabel yang diteliti.

d. Mengumpulkan Data
Dalam penelitian kuantitatif, pengumpulan data didasarkan pada instrumen yang sudah ditetapkan sebelum penelitian. Instrumen yang dimaksud adalah daftar pertanyaan terstruktur (kuesioner).

e. Menganalisis dan Menginterpretasi Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah analisis statistik yang meliputi uraian kecenderungan, perbandingan kelompok yang berbeda, atau hubungan antarvariabel. Selain itu kita juga melakukan interpretasi terhadap data yang telah terkumpul. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan antara hasil penelitian dengan yang diprediksikan sebelum penelitian. Jadi interpretasi ini merupakan penjelasan mengenai hasil penelitian, apakah mendukung atau tidak mendukung prediksi yang diharapkan sebelumnya.

Pendekatan dalam metode ini biasanya sangat bergantung pada hipotesis dan variabel, sehingga metode pendekatannya berbeda dengan kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam metode penelitian kuantitatif adalah pendekatan populasi dan pendekatan sampel.

a. Pendekatan Populasi
Populasi adalah kumpulan seluruh anggota dalam kelompok tertentu yang memiliki jumlah yang besar karena melibatkan seluruh anggota kelompok. Sebagai suatu populasi, kelompok subjek ini harus memiliki ciri-ciri dan karakteristik bersama yang membedakan dari kelompok subjek yang lain. Ciri yang dimaksud tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi, akan tetapi dapat terdiri dari karakteristik-karakteristik individu.

Studi populasi seringkali tidak memungkinkan dilakukan untuk jangka panjang apabila karakteristik subjek dan variabel penelitiannya menyangkut aspek perkembangan. Namun apabila populasi yang hendak diteliti harus dipelajari seluruhnya, maka sangat mungkin akan memakan waktu yang lama guna mengambil data, membutuhkan tenaga peneliti dan tenaga lapangan yang banyak sekali, serta akan menghabiskan dana yang sangat besar. 

Suatu penelitian tidak dapat dilakukan terhadap seluruh populasi karena apabila hal itu dilakukan, maka akan dapat merusak populasi itu sendiri. Oleh karena itu, batasan dan karakteristik populasi harus jelas dan tegas sehingga kesimpulan penelitian dan target generalisasinya juga jelas. Begitu pentingnya pembatasan karakteristik populasi ini mengakibatkan pemilihan sampel dan pengambilan data belum dapat dilakukan sebelum batasan populasi tersebut diperoleh dengan benar.

b. Pendekatan Sampel
Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti atau dapat dikatakan sebagai bagian dari populasi. Karena merupakan bagian dari populasi, maka harus memiliki ciri seperti yang dimiliki oleh populasinya. Apakah suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya. Karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel, sedangkan kesimpulannya nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangat penting untuk memperoleh sampel yang representatif bagi populasinya. Untuk itulah perlu pemahaman mengenai teknik-teknik pengambilan sampel yang tepat. Proses mengambil atau menentukan sampel disebut dengan sampling

Secara garis besar kita mengenal dua macam teknik pengambilan sampel (sampling), yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.

1) Probability Sampling
Probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih. Jenis ini dibagi atas simple random sampling dan stratified random sampling.

a) Simple Random Sampling (Sampel Acak Sederhana)
Pengambilan sampel dengan cara acak sederhana memberikan kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu atau unit dalam keseluruhan populasi. Pengambilan sampel secara acak sederhana ini dilakukan dengan cara undian, tabel, atau menggunakan komputer sebagai media pengacaknya. 

Ciri utama sampel acak sederhana ini adalah bahwa setiap unsur dari keseluruhan populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Selain itu kesempatan harus independen, artinya kesempatan bagi suatu unsur untuk dipilih tidak memengaruhi kesempatan unsur-unsur lain untuk dipilih. Pengambilan sampel dengan cara ini hanya dapat dilakukan pada populasi yang homogen. Apabila populasinya tidak homogen, maka tidak akan diperoleh sampel yang representatif. Selain meng-hendaki homogenitas, cara ini juga hanya praktis apabila digunakan pada populasi yang tidak terlalu besar.

b) Stratified Random Sampling (Sampel Acak Berstrata)
Pengambilan sampel berstrata dilakukan pada suatu populasi yang terbagi atas beberapa strata atau subkelompok dan dari masing-masing subkelompok itu diambil sampel-sampel terpisah. Pengambilan sampel berstrata dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu dengan cara proporsional dan cara tidak proporsional.

(1) Proportional Stratified Sampling (Sampel Berstrata Proporsional)
Pada prosedur pengambilan sampel ini, banyaknya subjek dalam setiap subkelompok
harus diketahui perbandingannya lebih dahulu. Kemudian ditentukan persentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi. Persentase atau proporsi ini lalu diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya.

(2) Disproportional Stratified Random Sampling (Sampel Acak Berstrata Disproporsional)
Prosedur ini biasanya dilakukan karena alasan statistik yang kadang-kadang analisisnya meminta jumlah subjek yang sama dari masing-masing subkelompok. Kadangkala, pengambilan sampel dengan model ini dapat mengakibatkan terlalu sedikit jumlah sampel dalam satu atau beberapa strata. Padahal kita ketahui bahwa semakin besar jumlah sampel dalam masingmasing strata, maka kesalahan pengambilan sampel (sampling error) akan semakin kecil.

Dalam cara ini, penentuan sampel dilakukan tidak dengan mengambil proporsi yang sama bagi setiap subkelompok atau strata, akan tetapi dimaksudkan untuk mencapai jumlah tertentu dari masing-masing strata.

c) Cluster Random Sampling (Sampel Acak Klaster)
Pengambilan sampel dengan cara ini adalah dengan melakukan randomisasi terhadap kelompok, bukan terhadap subjek secara individual. Sebagai contoh, pada suatu tempat kos siswa yang terdiri dari 30 kamar, siswa yang menghuni masing-masing kamar tersebut adalah 3 orang. Dengan cara klaster, pengambilan sampel tidak dilakukan randomisasi terhadap 90 orang siswa secara individual, melainkan lewat randomisasi terhadap kamar sebagai klaster.

Misalnya dipilih 20 kamar dari 30 kamar yang ada dan menjadikan seluruh penghuni kamar terpilih sebagai sampel, sehingga kita memiliki 20 x 3 = 60 orang siswa sebagai subjek.

2) Nonprobability Sampling
Nonprobability sampling adalah suatu cara pengambilan sampel, di mana besarnya peluang anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel tidak diketahui. Tentu saja akibat dari kondisi ini kita tidak mungkin dapat menghitung besarnya kesalahan dalam estimasi terhadap karakteristik populasi.

Yang termasuk nonprobability sampling di antaranya adalah quota sampling dan purposive sampling.

a) Quota Sampling
Quota sampling adalah metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau kuota yang diinginkan. Misalnya sejumlah siswa kelas XII yang pernah menjadi pengurus OSIS di sekolahnya, atau sejumlah siswa kelas XII yang pernah mengikuti seminar tentang penelitian.

Hasilnya berupa kesan-kesan umum yang masih kasar yang tidak dapat dipandang sebagai generalisasi umum. Dalam sampel dengan sengaja kita memasukkan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri yang kita inginkan.

b) Purposive Sampling
Purposive sampling ini dilakukan dengan mengambil orang-orang yang terpilih betul oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh subjek itu. Sampel yang dipilih adalah sampel yang dapat relevan dengan rancangan penelitian. Peneliti berusaha agar dalam sampel itu terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Dengan demikian harus diusahakan agar sampel itu memiliki ciri-ciri yang esensial dari populasi, sehingga dapat dianggap representatif. 

Misalnya untuk menilai mutu kegiatan OSIS di Sekolah Menengah Atas, peneliti harus menentukan sampel yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru-guru yang menjabat sebagai pembina OSIS, pengurus OSIS, pengurus Komite Sekolah, dan sebagian siswa.

c) Snowball Sampling
Dalam snowball sampling ini kita memulai dari kelompok kecil yang nanti diminta untuk menunjuk orang lain dalam kelompok tersebut. Kemudian orang lain tersebut diminta pula untuk menunjukkan kawan masing-masing pula, begitu seterusnya sehingga kelompok itu senantiasa bertambah besar.

Sampling ini dipilih apabila kita ingin menyelidiki hubungan antarmanusia dalam kelompok yang baik, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di kalangan tertentu. Misalnya bagaimana orang menanamkan modal, membeli rumah di perumahan, dan lain sebagainya.

2. Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh dengan cara verbal. 

Pada dasarnya ada tiga unsur utama dalam penelitian kualitatif, yaitu sebagai berikut.
a. Data, bisa berasal dari bermacam-macam sumber, biasanya dari wawancara dan pengamatan.
b. Prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk mendapatkan temuan atau teori. Prosedur ini mencakup teknik-teknik untuk memahami data atau biasa disebut dengan coding (penandaan).
c. Laporan tertulis dan lisan. Laporan ini dapat dikemukakan dalam jurnal ilmiah atau konferensi. Bentuknya bisa beragam, tergantung pada khalayak dan aspek-aspek temuan atau teori yang disajikannya.

Untuk melakukan penelitian kualitatif, ada beberapa langkah yang harus kamu lakukan. Menurut Asmadi Alsa, langkahlangkah tersebut adalah sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi Masalah Penelitian
Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menekankan pada deskripsi dan eksplanasi, penelitian kualitatif melakukan penelitian dengan cara yang eksploratif dan berusaha memahami fenomena sentralnya. Eksplorasi di sini maksudnya bahwa peneliti hanya mengetahui sedikit tentang fenomena yang akan diteliti, sehingga peneliti harus belajar lebih banyak tentang fenomena tersebut dari subjek yang diteliti.

b. Melakukan Tinjauan Kepustakaan
Dalam penelitian kualitatif, kepustakaan lebih dimaksudkan sebagai dasar untuk melakukan justifikasi (pentingnya masalah itu diteliti) atas permasalahan penelitian dan tidak mengarahkan pertanyaan penelitian. Ini berarti bahwa kepentingan tinjauan kepustakaan merupakan keperluan yang sekunder, sedangkan yang utama adalah pandangan dan pengalaman dari subjek.

c. Menetapkan Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini, tujuan penelitian lebih banyak diarahkan untuk aspek keterbukaan (open-ended), karena dimaksudkan untuk memperoleh pandangan subjek tentang masalah yang diajukan dalam penelitian. Maksud peneliti adalah memberikan kesempatan kepada subjek untuk berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka.

d. Mengumpulkan Data
Ketika melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti dapat mengembangkan satu fokus saat mengumpulkan data, ia tidak menggunakan pendekatan dalam penelitiannya dengan pertanyaan-pertanyaan khusus untuk menjawab atau menguji hipotesis. Peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan datanya melalui kontak terus-menerus dengan informan (subjek) dalam pergaulan sehari-hari.

Metode pengumpulan data yang mewakili karakteristik penelitian kualitatif ini adalah observasi berpartisipasi dan pertanyaan mendalam (in-depth interview). Prosedur yang digunakan secara runtut menurut Bogdan dan Biklen seperti dikutip dalam Asmadi Alsa (2007) adalah sebagai berikut.
  1. Mengumpulkan data berupa kata-kata (verbal);
  2. Menganalisis kata-kata tersebut dengan cara pendeskripsian peristiwa-peristiwa dan memperoleh atau menetapkan tema;
  3. Mengajukan pertanyaan umum dan luas;
  4. Tidak membuat prediksi terhadap subjek yang diamati, tetapi menyandarkan diri pada peneliti untuk membentuk apa yang mereka laporkan;
  5. Tetap dapat dilihat dan ada dalam laporan tertulis.

e. Menganalisis Data
Dalam penelitian kualitatif, karena datanya terdiri dari teks dan gambar, maka ada perbedaan pendekatan analisisnya. Ada beberapa pendekatan dalam metode kualitatif ini, di antaranya adalah pendekatan fenomenologis, interaksi simbolis, historis, komparatif, gabungan antara komparatif dan historis, studi kasus, dan studi kepustakaan.

1) Pendekatan Fenomenologis
Sebuah pendekatan yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu disebut dengan pendekatan fenomenologis. Pendekatan ini memberi tekanan pada verstehen, yaitu pengertian interpretatif terhadap pengamatan manusia. 

Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang ditelitinya. Oleh karena itu, dalam fenomenologi peneliti berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa, sehingga mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan olehnya di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.


2) Pendekatan Interaksi Simbolis
Pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia dipengaruhi oleh penafsiran. Objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak memiliki pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka. Melalui interaksi seseorang membentuk pengertian. Orang dalam situasi tertentu sering mengembangkan definisi karena mereka secara teratur berhubungan dan mengalami pengalaman bersama, masalah, dan latar belakang, tetapi kesepakatan tidak merupakan keharusan. 

Di pihak lain sebagian memegang definisi bersama untuk menunjuk pada kebenaran, suatu pengertian yang senantiasa dapat disepakati. Hal itu dapat dipengaruhi oleh orang yang melihat sesuatu dari sisi lain. Pendekatan ini tidak menolak kenyataan bahwa konsep teoretik tersebut mungkin bermanfaat. Namun, hal itu hanya relevan untuk memahami perilaku sepanjang hal itu memasuki atau berpengaruh terhadap proses pendefinisian.

3) Pendekatan Historis
Pendekatan historis merupakan suatu pendekatan yang analisis datanya didasarkan pada peristiwa-peristiwa masa lampau untuk mengetahui kejadian saat ini. Pendekatan ini merunut suatu peristiwa pada suatu waktu, kemudian dieksplanasi (dikupas) untuk memahami kejadiankejadian yang ada pada saat itu guna menerapkan pada kejadian saat ini.

4) Pendekatan Komparatif
Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan dengan cara membandingkan antara kondisi masyarakat di suatu tempat dengan kondisi masyarakat yang ada di tempat yang lain. Dengan mendasarkan pada konsep yang sama, pendekatan ini mencoba menafsirkan kejadian berbeda antarmasyarakat untuk dicari perbedaannya.

5) Pendekatan Gabungan antara Komparatif dan Historis
Dapat dikatakan bahwa pendekatan gabungan merupakan suatu pendekatan yang berusaha untuk membandingkan pola kehidupan masyarakat pada kurun masa tertentu dengan masyarakat masa sekarang. Penafsiran atas perbedaan inilah yang akan menjadi orientasi pendekatan gabungan.

6) Pendekatan Studi Kasus
Pendekatan studi kasus memusatkan perhatian pada fenomena-fenomena sosial yang nyata dalam masyarakat, di mana yang ditelaah adalah keadaan masyarakat dilihat dari persoalan atau kasus tertentu, baik dalam suatu lembaga, kelompok, maupun secara individu. Contohnya gerakan buruh memprotes undang-undang ketenagakerjaan, gerakan mahasiswa memprotes kenaikan harga BBM, dan lain-lain. Atau dengan kata lain pendekatan ini berusaha mendalami secara sungguh-sungguh dari salah satu gejala yang nyata yang terdapat dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu.

7) Pendekatan Studi Kepustakaan
Pendekatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan macam-macam materi yang ada dalam batasan kepustakaan. Misalnya dapat berupa buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, internet, rekaman audio-visual, dokumen, jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

Referensi : Azwar, Saifudin. 2005. Metode Penelitian. Jogjakarta: Pustaka Pelajar & Buku Sosiologi kelas XII oleh Bondet Wrahatnala

Selasa, 18 Februari 2020

Faktor yang dapat memunculkan ide usaha produk kerajinan

   
Faktor-faktor yang dapat memunculkan ide usaha produk kerajinan yaitu sebagai berikut.

1) Faktor Internal

Faktor internal menjadi alat untuk menciptakan sebuah inspirasi atas objek yang dihadapi dengan kemampuan kreativitasnya. Faktor internal ialah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor internal ialah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang sebagai subjkenya/pengusaha, antara lain :
  • pengalaman dari individu itu sendiri
  • pengalaman saat ia melihat orang lain menyelesaikan masalah
  • intuisi yang merupakan pemikiran yang muncul dari individu itu sendiri
  • pengetahuan yang dimiliki

2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal ialah hal-hal yang dihadapi seseorang dan merupakan objek untuk mendapatkan sebuah inspirasi usaha itu, antara lain :
  • kesulitan yang dihadapi sehari-hari
  • kebutuhan yang belum terpenuhi baik untuk dirinya maupun orang lain
  • pemikiran yang besar untuk menciptakan sesuatu yang baru
  • masalah yang dihadapi dan belum terpecahkan
Untuk merintis suatu usaha produk kerajinan dengan baik, wirausahawan tentunya harus melihat prospek usaha jangka pendek, menengah, maupun panjang. Selanjutnya, untuk memulai usaha produk kerajinan, wirausahawan harus mengetahui bagaimana prospek usaha ini. Setelah mengetahui prospek usaha, barulah dia membuat rencana usaha, mempersiapkan sarana dan prasarana, serta modal usaha.

Senin, 17 Februari 2020

Pengertian dan Jenis Teater Tradisional


Teater Tradisional sering disebut juga dengan "Teater Daerah" merupakan suatu bentuk teater yang bersumber, berakan dan sudah dirasakan seperti milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan atas cita rasa masyarakat pendukungnya. Teater Tradsiional juga memiliki ciri-ciri yang spesifik kedaerahan dan menggambarkan kebudayaan lingkungannya.


Ciri-ciri utama Teater Tradisional antara lain :

  • menggunakan bahasa daerah 
  • dilakukan secara improvisasi
  • ada unsur nyanyian dan tarian
  • diiringi tetabuhan musik daerah
  • ada dagelan/banyolan
  • adanya keakraban antara pemain dan penonton
  • suasananya santai
Jenis teater yang dapat dikategorikan sebagai Teater Tradisional antaralain sebagai berikut.

a. Teater Rakyat

Teater ini lahir dari spontanitas kehidupan dalam masyarakat, dihayati oleh masyarakat dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Kelahiran Teater rakyat umumnya karena dorongan kebutuhan masyarakat terhadap suatu hiburan, kemudian meningkat untuk kepentina lain misalnya kebutuhan akan mengisi upacara dan upacara adat.

Jenis-jenis teater rakyat yang ada di Indonesia, antara lain :

Jawa Barat : Wayang Golek, Longser, Pantun Sunda, Sandiwara Sunda, Topeng Cirebon, Wayang Kulit, Kuda Kepang, Sintren, Odong-Odong, Masres, Kuda Lumping, Surak Ibra, Kuda Renggong, Lais, Angklung Sared.
Bali : Topeng Cupak, Topeng Prembon, Topeng Arja
Riau : Makyong dan Mendu
Sumatra Barat : Randai dan Bakaba
Kalimantan : Tatayungan dan Mamanda
Banten : Debus, Ubrug
DKI Jakarta : Topeng Betawi, Lenong, Samra
Jawa Tengah : Wayang Purwa, Wayang Orang, Srandul
Jawa Timur : Ludruk, Topeng Malangan, Ketoprak, Kentrungan, Reog Ponorogo, Wayang Kulit, Wayang Gambuh, Gambuh, Calanarang, Teater Arja

b. Teater Klasik

Teater ini merupakan suatu perkembangan seni yang telah mencapai tingkat tinggi baik teknis maupun coraknya. Kemampuan dari jenis Teater Klasik ini sebagai akibat dari adanya pembinaan yang terus menerus dari kalangan atas, seperti Raja, bangsawan atau tingak sosial lainnya. Oleh karena itu jenis kesenian klasik kebanyakan lahir dilingkungan istana. Untuk jenis teater yang termasuk klasik, misalnya Wayang Golek, Wayang Orang, dan Wayang Kulit.

Cara pementasan Teater Klasik ini sudah tidak sebebas teater rakyat. Teater ini harus menuruti aturan-aturan etis dan estetis yang telah digariskan.


c. Teater Transisi

Pada dasarnya jenis Teater ini juga bersumber pada Teater Tradisional, tetapi gaya pementasannya sudah dipengaruhi oleh Teater Barat. Pengaruh Teater Barat nampak pada tata cara penyajiannya. Walaupun pada Teater Transisi masih belum setia terhadap naskah Teater, namun karena tumbuhnya dari masyarakat kota dan banyak dimainkan oleh para pendatang ,tidak mencerminkan aspirasi rakyat secara utuh.
    
Jenis Teater transisi pada masa awal, misalnya Komedi Stambul dan Sandiwara Dardanella. Teater semacam ini lebih disebut "Sandiawara". Sedangkan Teater Transisi masa sekarang adalah Sandiwara Srimulat, Sandiwara Sunda, Sandiwara Bangsawan, dll.

Minggu, 16 Februari 2020

Upaya Mengatasi Permasalahan Tata Ruang di Indonesia


Upaya Mengatasi Permasalahan Tata Ruang di Indonesia - Mengurangi hambatan permsalahan tata ruang di Indonesia memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah yang berwenang menyelesaikan permsalahan itu, tetapi masyarakat juga harus mampu berperan aktif mendukung perencanaan tata ruang di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi persamalahan penerapan tata ruang yaitu sebagai berikut.

1. Peningkatan Peran serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
Pembangunan wilayah memerlukan penataan ruang yang berjalan baik dengan keterlibatan masyarakat. Menempatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan dapat mendorong efektivitas proses penataan ruang. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator dalam proses penataan ruang. Dengan demikian, masyarakat tidak merasa mendapat tekanan atau paksaan dalam proses pembangunan akibat kurang pemahaman.

2. Penguatan Kerja Sama Pemerintah Daerah
Penataan ruang antardaerah harus saling terintegrasi. Hal ini dilakukan terutama pada wilayah perencanaan yang melewati beberapa daerah administrasi. Misalnya pada permasalahan banjir di perkotaan yang harus diselesaikan dengan upaya terpadu antara kawasan hulu sampai hilir. Kerja sama dan komunikasi antardaerah harus berjalan dengan baik. Dengan demikian, produk penataan ruang yang dihasilkan bersifat komperehensif dan menjawab permsalahan wilayah.

3. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia untuk Penataan Ruang
Permasalahan kurangnya tenaga ahli di bidang penataan ruang harus diatasi dengan menambah dan meningkatkan kualitas SDM. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan arahan dan alternatif solusi teknis sesuai permsalahan penataan ruang di setiap daerah. Peningkatan kualitas sumber daya manusia ini juga harus didukung dengan pendampingan saat proses pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Sabtu, 15 Februari 2020

Pengertian dan Kelebihan Kekurangan Perusahaan Dagang & Jasa


Terkadang kita sering kebingungan dalam menentukan usaha suatu perusahaan. Jika dicermati, aktivitas suatu perusahaan dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan perusahaan pabrikasi (manufacture).

Perusahaan jasa adalah perusahaan yang didirikan seseorang atau sekelompok orang yang kegiatan utama/pokok bergerak dalam bidang pelayanan jasa atau menjual jasa. Penghasilan yang diperoleh dari perusahaan jasa ini dapat berupa hasil dari penyerahan jasa, yaitu berupa pendapatan jasa.

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan utama/pokok melakukan pembelian suatu barang untuk dijual kembali tanpa mengubah pembelian suatu barang untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuk maupun fungsi dari barang tersebut. Perusahaan ini memperoleh penghasilan dari penjualan barang dagangannya.

Selanjutnya yaitu kelebihan dan kekurangan dari perusahaan jasa dengan perusahaan dagang.

Perusahaan Jasa 
Kelebihannya antara lain :

  • tidak perlu tempat untuk memajang (display) barang
  • tidak diperlukan tempat untuk menyimpan barang (gudang)
  • Tidak perlu alat angkut untuk mengirim barang kepada konsumen
Kekurangannya antara lain :
  • kualitas jasa dapat diketahui setelah konsumen membeli jasa
  • jasa yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan (diretur).

Perusahaan Dagang 
Kelebihannya antara lain :
  • kualitas barang dapat diketahui secara langsung oleh konsumen
  • menjual barang tanpa mengolah lebih dulu
Kekurangannya antara lain :
  • diperlukan tempat untuk menyimpan barang (gudang)
  • diperlukan tempat untuk memajang (display) barang
  • diperlukan alat angkut untuk mengirim barang kepada konsumen
  • barang yang sudah dibeli konsumen dapat dikembalikan (diretur) sehingga perusahaan tidak jadi memperoleh penghasilan

Sedangkan perusahaan pabrikasi (manufacture) adalah perusahaan yang kegiatan utama/pokok mengolah bahan mentah menjadi produk jadi untuk dijual. Perusahaan ini kegiatannya membeli bahan mentah lalu mengolahnya menjadi barang jadi, selanjutnya dijual kepada konsumen/pelanggan. Bahan mentah yang diolah hasilnya berupa produk jadi yang berubah bentuk maupun fungsi dari bahan tersebut. Misalnya pabrik tekstil yang mengolah benang menjadi kain untuk dijual kepada pelanggan/ konsumen.


Referensi : Buku Ekonomi Kelas XII oleh Mimin Nur Aisyah & Hartatik Fitria R

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done