masrafli.com

Sabtu, 16 Oktober 2021

Paragraf : Pengertian, Syarat, dan Jenis-Jenis

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang biasanya memiliki satu ide pokok dan cara penulisannya ditandai dengan penulisan yang menjorok ke dalam atau dimulai dengan garis baru. Paragraf yang baik harus memenuhi dua syarat utama, yaitu memiliki kesatuan dan kepaduan paragraf.


1. Kesatuan
Sebuah paragraf hanya berisi satu ide pokok. Ide pokok ini dalam pengungkapannya harus didukung oleh kalimat-kalimat, baik sebagai kalimat utama maupun sebagai kalimat penjelas.

2. Kepaduan
Kepaduan paragraf ditandai dengan adanya penyusunan kalimat secara logis, melalui ungkapan pengait antarkalimat. Urutan yang logis dapat di ketahui melalui susunan kalimat. Kalimat yang sumbang atau keluar dari permasalahan yang dibicarakan akan membuat kalimat tidak padu.

Nah setelah membahas mengenai pengertian dan syarat, selanjutnya yaitu jenis-jenis paragraf. Jenis-Jenis paragraf dibedakan berdasarkan letak kalimat utama dan tujuannya, paragraf dibagi menjadi paragraf deduktif, paragraf induktif, dan paragraf campuran.

1. Paragraf Deduktif
Letak kalimat utama paragraf ini adalah pada awal paragraf sedangkan kalimat berikutnya merupakan penjelasan atau kalimat-kalimat penjelas.

2. Paragraf Induktif
Letak kalimat utama paragraf ini adalah pada akhir paragraf. Jadi, kebalikan dari paragraf deduktif di atas maka ide pokok terletak pada akhir kalimat. Sedangkan kalimat-kalimat penjelasnya, dimulai pada awal hingga menjelang akhir paragraf.

3. Paragraf Campuran
Letak kalimat utama paragraf ini adalah pada awal dan akhir paragraf. Dengan demikian, ide pokok mula-mula dituangkan di awal kemudian ditegaskan lagi pada akhir paragraf. Kalimat utama paragraf kombinasi berarti ada dua kalimat. Kalimat-kalimat penjelas terletak mulai kalimat (2) hingga menjelang dituangkan kalimat utam yang berada pada akhir paragraf.

Lalu selanjutnya, jenis paragraf ini dibedakan berdsarkan tujuannya, yaitu paragraf pembuka, penghubung, dan penutup.

1. Paragraf Pembuka
Paragraf pembuka adalahh paragraf yang digunakan penulis, untuk mengantarkan pembaca kepada topik yang dibicarakan. Biasanya paragraf ini memberikan uraian yang jelas dan menarik perhatian, dan dinyatakan pula tujuan penulisan dari topik yang dibicarakan tersebut.

2. Paragraf Penghubung
Paragraf penghubung mengemukakan topik penulisan. Oleh karena itu, jumlah paragraf ini cukup banyak menempati wacana. Isi atau inti persoalan yang dikemukakan melalui paragraf-paragraf penghubung ini terjalin secara logis dan berurutan. Perincian, penjelasan, penggambaran data yang diungkapkan berkaitan dengan paragraf pembuka dan paragraf penutup.

3. Paragraf Penutup
Paragraf penutup hanya terdapat pada akhir sebuah teks. Isi paragraf ini umumnya berupa simpulan dari paragraf pengubung atau penegasan kembali tentang hal-hal diangap penting dari paragraf penghubung.

Yang terakhir, yaitu berdasarkan cara penyajiannya, karangan atau paragraf terbagi menjadi lima jenis : 

1. Narasi
Karangan atau paragraf yang memaparkan suatu rangkaian peristiwa atau kejadian.

2. Deskripsi
Karangan atau paragraf yang melukiskan suatu keadaan. Tujuannya agar pembaca ikut merasakan perasaan pengarang.

3. Eksposisi
Karangan atau paragraf yang berusaha memaparkan fakta secara objektif. Tujuannya memberi penjelasan kepada pembaca

4. Argumentasi
Karangan atau paragraf yang bertujuan untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakini kebenaran yang disampaikan. Pembuktian dilengkapi dengan data dan fakta yang ada.

5. Persuasi
Karangan atau paragraf yang bertujuan memengaruhi pembaca agar setuju atau melakukan apa yang dikatakan atau diharapkan penulis.


Rabu, 14 April 2021

Ciri Negara Eropa yang Menganut paham Merkantilisme

Merkantilisme adalah teori ekonomi yang menganjurkan peraturan pemerintah tentang perdagangan internasional untuk menghasilkan kekayaan dan memperkuat kekuatan nasional. Pedagang dan pemerintah bekerja sama untuk mengurangi defisit perdagangan dan mencitakan suprlus.


Secara historis Merkantilisme adalah teori yang menyatakan bahwa kekuasaan suatu negara didasarkan pada kekayaan (modal) dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini membutuhkan akumulasi komoditas yang berharga, dan neraca perdagangan yang menguntungkan ekspor atas impor.

Pada abad 16 sampai ke-18, eksplorasi dan kolonialisme membawa barang-barang berharga dan bahan baku ke Eropa. Hal ini juga membuka pasar baru untuk ekspor barang-barang manufaktur. Pada koloni Amerika, Inggris memonopli perdagangan, sehingga koloni memberi keuntungan mereka ke Inggris.

Emas dan Perak (Logam mulia) pada waktu itu merupakan standar devisa suatu negara dan sebagai ukuran kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan negara. Berikut ini Ciri-Ciri Negara Eropa yang menganut paham merkantilisme :
  1. Meningkatkan industri dalam negeri dengna sasaran ekspor
  2. Hanya mengizinkan impor bahan mentah atau bahan baku dari negara-negara produsen yang dikuasai secara tunggal (monopoli perdagangan).
  3. Mencari negeri-negeri dengna kekayaan alam yang tinggi sebagai daerah jajahan.
  4. Negara mengawasi dan ikut campur dalam perkembangan perekonomian (etatisme)
  5. Mencegah masuknya hasil industri dari negara lain dengan mengenakan bea masuk tinggi (proteksionisme).
  6. Meningkatkan pertumbuhan penduduk sebagai tenaga kerja industri
Kebutuhan akan pasar pada masa berkembangnya merkantilisme mengakibatkan terjadinya banyak peperangan antara negara-negara Eropa pada abad ke-17 dan 18, seperti perang antara Belanda degnan Inggris dan Belanda dengna Prancis. Merkantilisme mendorong berkembangnya kapitalisme dan imperialisme Eropa.

Sistem ekonomi merkantilisme sudah mulai menghilang pada akhir abad ke-18, seiring dengan munculnya teori liberaisme ekonomi yang dicetuskan oleh Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations. Dengan mengadopsi sistem perdagangan bebas yang diajarkan oleh Adam Smith, Inggris berkembang menjadi negara idnustri terbesar di dunia.

Senin, 18 Januari 2021

Langkah-Langkah Penginderaan Jauh

Artikel kali ini akan membahas mengenai Langkah-Langkah Penginderaan JauhLangkah-langkah pengindraan jauh pada umumnya meliputi enam tahap. Secara garis besar, tahap-tahap tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Perumusan dan Tujuan

Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan, misalnya erosi tanah, penebangan hutan, dan pencemaran lingkungan. Masalah harus dirumuskan dengan jelas, karena hal itu merupakan landasan bagi penyusunan tujuan yang ingin dicapai.

2. Evaluasi Kemampuan

Setelah masalah dan tujuan dirumuskan dengan jelas, langkah berikutnya adalah penelitian terhadap kemampuan dalam pelaksanaannya. Yang perlu dinilai di antaranya kemampuan tim pelaksananya, alat dan perlengkapan, waktu, serta dana yang tersedia. Antara kemampuan dan tujuan harus sesuai. Bila tidak sesuai, kemampuan harus ditingkatkan atau tujuannya harus ditinjau kembali, misalnya dengan penyederhanaan masalah atau tujuan,

3. Pemilihan Cara Kerja

Cara kerja yang dipilih harus sesuai dengan tujuan, jangan sampai bertolak belakang. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai masalah serta objek yang akan diteliti.

4. Tahap persiapan

a. Penyiapan Data Acuan

Data acuan ialah data yang bukan berasal dari citra pengindraan jauh, akan tetapi data itu diperlukan dalam interpretasi citra. Data acuan itu dapat berupa monografi daerah, laporan penelitian, kertas kerja, majalah atau buku, dan peta. Data-data tersebut diperlukan untuk menunjang terhadap interpretasi citra dan pengindraan jauh.

b. Penyiapan Data Pengindraan Jauh

Data pengindraan jauh ialah hasil perekaman objek dengan menggunakan sensor buatan, misalnya: berupa citra foto, citra nonfoto, atau numerik. Data pengindraan jauh yang  akan dipersiapkan harus sesuai dengan tujuan dan kemampuan penelitian.

c. Penyiapan Mosaik

Mosaik foto ialah serangkaian foto dari suatu daerah yang disusun menjadi satu lembar foto. Penyusunan ini dimaksudkan untuk menggambarkan daerah penelitian secara utuh.

d. Orientasi Medan

Pekerjaan ini dilakukan dengan observasi langsung ke medan penelitian, yang bertujuan untuk mencocokkan wujud medan (objek) yang tergambar di foto dengan objek yang sebenarnya.

Orientasi medan perlu dilakukan apabila:

  1. tidak adanya data acuan, dan
  2. objek yang tergambar pada foto sulit diinterpretasi.

5. Interpretasi data

Data pengindraan jauh dapat berupa angka-angka (data numerik) atau pun berupa data visual. Dalam langkah ini, data tersebut diinterpretasi atau dianalisis menjadi informasi yang nantinya diperlukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

6. Laporan

Laporan hasil penelitian pengindraan jauh sangat bergantung pada jenis penelitiannya. Laporan hasil penelitian murni akan berbeda dengan hasil penelitian terapan. Perbedaan tersebut, terutama terletak pada analisisnya. Bagi penelitian murni, analisisnya berkisar pada bidang pengindraan jauh itu sendiri. Sedangkan bagi penelitian terapan, diarahkan untuk membantu terhadap suatu kepentingan tertentu.

Minggu, 06 Desember 2020

Norma Sosial: Definisi, Jenis, Fungsi, dan Ciri

Norma sosial adalah aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong, bahkan menekan anggota masyarakat untuk mencapai nilai sosial.

Norma Sosial berdasarkan berat dan ringannya sanksi

1. Usage (Tata Cara)

Norma ini menunjuk pada bentk perbuatan yang sanksinya paling ringan. Pelanggaran terhadap norma ini hanya menimbulkan celaan. Contohnya adalah cara makan dengan tangan kanan.

2. Folkways (Kebiasaan)

Kebiasaan adalah cara yang dilakukan berulang-ulang. Misalnya mengucapkan salam apabila masuk rumah. Sanksinya lebih berat apabila melanggar dapat ditegur, disindir, atau dijulidin tetangga.

3. Mores (Tata Kelakuan) 

Norma ini bersumber pada filsafat, ajaran gama, ataupun keyakinan dan ideologi yang dianut masyarakat. Orang yang melanggar dicap sebagai penjahat. Contohnya adalah dilarang berjudi, mencuri, dan menggunakan narkoba.

4. Customs (Adat Istiadat)

Adat Istiadat merupakan peraturan tidak tertulis yang mempunyai sanksi yang tegas. Contohnya adalah perceraian di salah satu masyarakat di Lampung dapat dikeluarkan dari anggota adat.

Norma Sosial berdasarkan sumbernya

1. Norma Agama

Norma agama berisi aturan-aturan yang bersumber dari ajaran agama.

2. Norma peraturan yang berkaitan dengan interaksi sosial

Norma etika berisi segala peraturan yang berkaitan dengan interaksi sosial

3. Norma Kesusilaan

Norma kesusilaan berisi ketentuan yang bersumber pada hati nurani, moral, atau filsafat hidup.

4. Norma Hukum

Norma hukum berisi peraturan tertulis yang bersumber pada kitab Undang-Undang Negara.

Fungsi Norma Sosial

Berikut ini adalah fungsi norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain sebagai berikut.

  1. Sebagai alat kontrol sosial di masyarakat
  2. Sebagai wahana untuk menertibkan kehidupan sosial
  3. Sebagai pedoman bertingkah laku di masyarakat.

Ciri-Ciri Norma Sosial

Berikut ini adalah ciri-ciri norma sosial, antara lain sebagai berikut.

  1. Pada umumnya tidak tertulis
  2. Hasil dari kesepakatan masyarakat
  3. Terdapat sanksi yang harus diterima jika melanggar norma
  4. Norma sosial juga dapat mengalami perubahan, sesuai dengan perubahan-perubahan dalam kehidupan penganutnya
  5. Warga masyarakat sebagai pendukung dan yang melaksanakan sangat menaatinya

Konsep Alienasi

Alienasi atau keterasingan merupakan kondisi ketika individu merasa terpisah atau terputus dari masyarakat dan kebudayaanya sehingga nilai dan norma masyarakat tidak lagi memberikan makna kepada individu tersebut. Menurut Karl Marx, alienasi berarti suatu keadaan manusia yang dikuasai oleh kekuatan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Akibatnya, individu itu terhalangi untuk menjadi manusia seutuhnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alienasi antara lain:

  1. Kehilangan makna hidup
  2. Norma sosial yang melemah
  3. Faktor keluarga (sistem keluarga, konflik, miseducation)
  4. Faktor lingkungan/ pergaulan terkait dengan kepribadian dan perilaku sosial)
Aspek-aspek dalam Alienasi antara lain:
  1. Meaninglessness atau tidak berarti
  2. Powerlessness atau ketidakberdayaan
  3. Social isolation atau terisolasi secara sosial
  4. Self-estrangement atau keterasingan diri
  5. Normlessness atau tidak ada norma




Selasa, 17 November 2020

Kondisi Ekonomi dan Politik Sebelum Reformasi

Reformasi merupakan perubahan yang radikal dan menyeluruh untuk perbaikan. Perubahan yang mendasar atas paradigma baru atau kerangka berpikir baru yang dijiwai oleh suatu pandangan keterbukaan dan transparansi merupakan tuntutan dalam era reformasi.

Reformasi menghendaki adanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika terjadi krisis ekonomi, politik, hukum dan krisis kepercayan, maka seluruh rakyat mendukung adanya reformasi dan menghendaki adanya pergantian pemimpin yang diharapkan dapat membawa perubahan Indonesia di segala bidang ke arah yang lebih baik.

Source : Google

Perkembangan Politik Pasca Pemilu 1997

Di tengah-tengah perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara terjadilah ganjalan dalam kehidupan berpolitik menjelang Pemilu 1997 disebabkan adanya peristiwa 27 Juli 1996, yaitu adanya kerusuhan dan perusakan gedung DPP PDI yang membawa korban jiwa dan harta.

Tekanan pemerintah Orba terhadap oposisi sangat besar dengan adanya tiga kekuatan politik yakni PPP, GOLKAR, PDI, dan dilarang mendirikan partai politik lain. Hal ini berkaitan dengan diberlakukan paket UU Politik, yaitu:

  1. UU No. 1 Tahun 1985 tentang Pemilu,
  2. UU No. 2 Tahun 1985 tentang susunan dan kedudukan anggota MPR, DPR, DPRD yang kemudian disempurnakan menjadi UU No 5 Tahun 1995,
  3. UU No. 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya,
  4. UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Pertikaian sosial dan kekerasan politik terus berlangsung dalam masyarakat sepanjang tahun 1996, kerusuhan meletus di Situbondo, Jawa Timur Oktober 1996. Kerusuhan serupa terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat Desember 1996, kemudian di berbagai daerah di Indonesia.

Pemilu 1997, dengan hasil Golkar sebagai pemenang mutlak. Hal ini berarti dukungan mutlak kepada Soeharto makin besar untuk menjadi presiden lagi di Indonesia dalam sidang MPR 1998. Pencalonan kembali Soeharto menjadi presiden tidak dapat dipisahkan dengan komposisi anggota DPR/MPR yang mengandung nepotisme yang tinggi  bahkan hampir semua putra-putrinya tampil dalam lembaga negara ini. Terpilihnya kembali Soeharto menjadi Presiden RI dan kemudian membentuk Kabinet Pembangunan VII yang penuh dengan ciri nepotisme dan kolusi. 

Mahasiswa dan golongan intelektual mengadakan protes terhadap pelaksanaan pemerintahan ini. Di samping hal tersebut di atas sejak 1997 Indonesia terkena imbas krisis moneter di Asia Tenggara. Sistem ekonomi Indonesia yang lemah tidak mampu mengatasi krisis, bahkan kurs rupiah pada 1 Agustus 1997 dari Rp2.575; menjadi Rp5.000; per dolar Amerika. Ketika nilai tukar makin memburuk, krisis lain menyusul yakni pada  akhir tahun 1997 pemerintah melikuidasi 16 bank. Kemudian disusul membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang bertugas mengawasi 40 bank bermasalah. 

Kepercayaan dunia terhadap kepemimpinan Soeharto makin menurun. Pada April 1998, 7 bank dibekukan operasinya dan nilai rupiah terus melemah sampai Rp10.000 perdolar. Hal ini menyebabkan terjadinya aksi mahasiswa di berbagai kota di seluruh Indonesia. Keadaan makin kacau ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan. Tanggal 4 Mei 1998 aksi anti Soeharto makin meluas, bahkan pada tanggal 12 Mei 1998 aksi mahasiswa Trisakti berubah menjadi bentrokan fisik yang membawa 4 kurban meninggal yakni Elang Mulia, Hari Hartanto, Hendriawan, dan Hafiadin Royan.

Kamis, 12 November 2020

Pengertian dan Tipe Lembaga Sosial

Istilah lembaga berasal dari kata institution yang menunjukan pada pengertian tentang sesuatu yang telah mapan. Dalam pengertian sosiologis lembaga dapat dilukiskan sebagai suatu organ yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat. Lembagalembaga pada mulanya terbentuk dari suatu kebiasaan yang dilakukan terus menerus sampai menjadi adat istiadat kemudian berkembang menjadi tata kelakuan (mores).

<a href="http://www.freepik.com">Designed by rawpixel.com / Freepik</a>

Kebiasaan dan tata pelakuan merupakan cara manusia bertingkah laku yang indah mempunyai struktur dalam kehidupan masyarakat. Seiring dari uraian diatas tentang definisi lembaga ada beberapa tokoh mengemukakan tentang lembaga sebagai berikut.

1. R.M Mac Iver dan C.H Page, dalam bukunya yang berjudul society, bahwa lembaga merupakan bentuk-bentuk atau kondisi-kondisi prosedur yang mapan, yang menjadi karakteristik bagi aktivitas kelompok. Kelompok yang melaksanakan patokan-patokan tersebut, disebut asosiasi.

2. Berger, menamakannya sebagai suatu prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak melalui jalan yang dianggap sesuai dengan keinginan masyarakat.

3. Mayor Polak JBAF. (1979), menyatakan bahwa lembaga atau social institution, adalah suatu kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting.

4. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (1964), menerjemahkan social institution sebagai ”lembaga kemasyarakatan”. Kata lembaga dianggap tepat, oleh karena kecuali menunjuk pada suatu bentuk, juga menyandang pengertian abstrak tentang adanya kaidahkaidah.

Lembaga itu mempunyai tujuan untuk mengatur antar hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting. Sumber menjelaskan bahwa lembaga itu melibatkan bukan saja pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi keperluan manusia tetapi juga pola organisasi untuk melaksanakannya. Kebutuhan itu antara lain: mencari rezeki, prokreasi atau melanjutkan jenis memenuhi keperluan roh, dan menjaga ketertiban.

Dalam kaitannya dengan uraian diatas seorang tokoh yang bernama W. Hamilton, bahwa lembaga merupakan tata cara kehidupan kelompok yang apabila dilanggar akan dijatuhi berbagai derajat sanksi.

Soedjono Soekamto (1982) menyimpulkan menurut sudut pandang sosiologis dengan meletakkan institusi sebagai lembaga kemasyarakatan, yaitu sebagai suatu jaringan daripada  proses-proses hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia yang berfungsi untuk memelihara hubungan-hubungan tersebut serta pola-polanya, sesuai dengan kepentingan-kepentingan manusia dan kelompoknya.

Summer melihatnya dari sudut kebudayaan, mengartikan lembaga kemasyarakatan sebagai perbuatan, cita-cita, sikap, dan perlengkapan kebudayaan, yang mempunyai sifat kekal serta yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Pentingnya adalah agar ada keteraturan dan integrasi dalam masyarakat.

Dari beberapa uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa lembaga adalah proses-proses berstruktur (tersusun) untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.

Tipe-Tipe Lembaga Sosial

Lembaga itu mempunyai tujuan untuk mengantur antara hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting. Sebelum pada tipe-tipe lembaga sosial kita ulas tentang tipe pengendalian sosial.

Pengendalian sosial memiliki dua tipe yaitu pengendalian sosial resmi (formal) dan pengendalian sosial tidak resmi (informal).

a. Pengendalian sosial formal

Pengendalian sosial formal adalah pengendalian sosial yang pengawasannya dilakukan oleh negara atau badan-badan yang mempunyai kedudukan tetap. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan prosedur yang jelas.

b. Pengendalian sosial informal

Pengendalian sosial informal adalah pengendalian sosial yang menunjukkan pada seperangkat norma sosial yang memaksa orang untuk bertindak sesuai dengan kesepakatan, namun tidak ada lembaga pendukung yang melaksanakannya secara tetap.

Dua tipe pengendalian sosial diatas dilakukan oleh sejumlah lembaga atau pranata sosial. Contoh lembaga atau pranata sosial adalah sebagai berikut.

  1. Kepolisian
  2. Pengadilan
  3. Tokoh adat
  4. Tokoh agama
  5. Tokoh masyarakat.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tipe–tipe lembaga sosial itu ada yang bersifat formal dan yang bersifat informal.



Minggu, 08 November 2020

Integrasi dan Disintegrasi

Pengaruh perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat yang bersifat positif berarti akan melahirkan kondisi yang integratif sedangkan yang membawa pengaruh negatif akan menciptakan kondisi hidup yang disintegratif atau disorganisasi. Disintegrasi yaitu memudarnya kesatupaduan dalam organisasi dan solidaritas antara yang kolektif, golongan, dan kelompok dalam suatu masyarakat. Situasi disintegrasi dipengaruhi oleh timbulnya ketidaksepahaman diantara anggota, tidak patuh terhadap norma-norma yang berlaku, tidak berfungsinya sanksi-sanksi, menurunnya kewibawaan tokoh-tokoh masyarakat dan sebagainya.

Bentuk perubahan sosial yang cenderung membawa kondisi disintegrasi yaitu perubahan sosial yang berbentuk revolusi dan perubahan yang pengaruhnya besar serta perubahan yang tidak dikehendaki contohnya antara lain sebagai berikut:

1. Disintegrasi masyarakat karena bentuk perubahan yang berlangsung secara tidak sengaja. Contoh adanya tindak kriminal, kesenjangan sosial, dan pengangguran.

2. Disintegrasi masyarakat karena bentuk perubahan yang pengaruhnya besar, contohnya proses industrialisasi dan akan menimbulkan cultural log (kesenjangan kebudayaan) contohnya teknologi pertanian yang begitu pesat, menurunnya sistem pengolahan lahan pertanian, dan mekanisasi dengan diperkenalkannya pengolahan dengan traktor. Proses industrialisasi juga dapat memunculkan kelompok majikan dan buruh. Bila kedua lapisan tersebut tidak dibina proses interaksinya dengan baik, maka akan muncul disintegrasi. Misalnya, konflik antara majikan dengan buruh yang akan mengganggu jalannya roda perusahaan. Selain itu juga, disintegrasi terjadi dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat perubahan sosial, misalnya konsumelisme, individualistis, hedomisme, dan materialistis.

3. Disintegrasi masyarakat karena perubahan sosial budaya secara revolusi. Revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan radikal. Melalui revolusi fisik yaitu peperangan yang terjadi pada suatu negara contohnya perang Israel dan Libanon, akan dapat merusak struktur politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Setelah mengetahui tentang integrasi dan disintegrasi tentu kita ingin mengetahui bagaimana proses perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang akan kita pelajari pada bab ini.

1. Proses Perubahan Sosial

Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mengalami suatu proses dalam pembentukannya dan menimbulkan dampak atau akibat dalam kehidupan masyarakat yang akan diuraikan berikut ini:

a. Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan.

Keserasian masyarakat merupakan suatu keadaan diantara lembaga-lembaga kemasyarakatan yang utama. Setiap individu dalam masyarakat merasa tentram, disebabkan tidak adanya pertentangan dalam masyarakat dapat tercipta dari suatu keadaan yang tidak serasi.

b. Disorganisasi dan reorganisasi.

Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan suatu kesatuan fungsional sedangkan disorganisasi adalah suatu keadaan adanya ketidakserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan.

Integrasi atau disorganisasi dapat dirumuskan sebagai suatu proses adanya norma-norma dari nilai-nilai dalam masyarakat. Sedangkan reorganisasi adalah suatu proses pembentukan normanorma baru agar serasi dengan lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan.

c. Saluran-saluran perubahan sosial budaya

Saluran-saluran perubahan sosial merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Adapun saluran-saluran tersebut adalah lembaga kemasyarakatan dalam bidang ekonomi, bidang agama, bidang pendidikan, rekreasi, pemerintahan, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya lembaga kemasyarakatan yang pada waktu mendapatkan penilaian tertinggi dari masyarakat maka cenderung untuk menjadi saluran utama perubahan sosial. Perubahan lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawa akibat pada lembagalembaga kemasyarakatan lainnya. 

Sebab lembaga kemasyarakatan merupakan suatu sistem integrasi. Saluran-saluran berfungsi sebagai alat perkenalan agar suatu perubahan dapat diterima dan diakui serta digunakan oleh masyarakat. Begitu pula halnya dalam bidang pendidikan, tidak diskriminasi antara golongan-golongan. Setiap individu boleh memilih pendidikan berdasarkan yang disukai. Pada akhirnya perubahan ini berpengaruh pada pola perilaku dan nilainilai masyarakat Indonesia.

Menurut Prof. Soejono Soekanto, disintegrasi adalah proses pudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena adanya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat.

Situasi disintegrasi dipengaruhi oleh timbulnya ketidaksepahaman diantara anggota, tidak patuh terhadap norma-norma yang berlaku, menurunnya kewibawaan tokoh-tokoh masyarakat, dan tidak berfungsinya sanksi-sanksi dan sebagainya.

2. Gejala-gejala Disintegrasi Sosial

Disorganisasi sosial akan mendahului disintegrasi sosial. Adapun gejalanya sebagai berikut:

  1. Ada pertentangan norma-norma dalam masyarakat sehingga menimbulkan kebingungan bagi anggota masyarakat itu sendiri.
  2. Norma-norma masyarakat tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan masyarakat.
  3. Terjadi interaksi sosial yang ditandai dengan proses sosial yang disasosiatif.
  4. Tidak ada sanksi yang tegas bagi pelanggar.
  5. Tindakan-tindakan masyarakat sudah tidak lagi sesuai dengan normanorma masyarakat.
  6. Tidak ada persepsi atau persamaan pandangan diantara anggota masyarakat mengenai tujuan yang semula dijadikan pegangan atau patokan oleh setiap anggota masyarakat. Proses disintegrasi yang terjadi di masyarakat dapat menimbulkan akibat atau dampak bagi kehidupan di masyarakat.

Setelah mengetahui perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mengalami suatu proses dalam pembentukan dampak atau akibat dalam kehidupan masyarakat. Bagaimanakah bentuk-bentuk disintegrasi sosial yang terjadi di masyarakat? Akan dipelajari pada bab ini.

3. Bentuk-bentuk Disintegrasi Sosial

a. Pergolakan daerah

Pergolakan daerah adalah suatu gerakan rasial vertikal dan horizontal yang dilakukan serentak di suatu daerah untuk melaksanakan kehendak atau cita-citanya.

Sebab-sebab terjadinya pergolakan daerah:

  1. Tindakan sewenang-wenang dari pemegang kekuasaan.
  2. Perbedaan ideologi antar golongan dalam masyarakat.
  3. Adanya tokoh sebagai pendorong dari timbul pergolakan akibat pergolakan daerah.
  4. Adanya pertentangan-pertentangan sosial yang berkepanjangan dan sulit diatasi.

Akibat pergolakan daerah:

  1. Timbulnya berbagai kelawanan dan gangguan keamanan
  2. Mobilitas dan aktivitas masyarakat terganggu.
  3. Terjadinya perubahan-perubahan yang cenderung negatif terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat.
  4. Merugikan diri sendiri, masyarakat, dan negara baik yang bersifat material maupun non material.

b. Kenakalan remaja

Kenakalan remaja adalah semua perbuatan anak remaja (usia belasan tahun) yang berlawanan dengan ketertiban umum (nilai, norma yang diakui bersama) yang ditujukan pada orang, binatang, dan barang-barang yang dapat menimbulkan bahaya atau kerugian pada pihak lain (Simanjuntak, 1972:40).

Tanda-tanda anak nakal:

  1. Sekolah sering membolos.
  2. Kebut-kebutan, minum-minuman, suka coret-coret tembok.
  3. Berani terhadap orang tua atau guru.
  4. Siswa bandel, kasar, dan sulit diatur.
  5. Memakai dan memasuki jaringan pemakaian dan pengedar obat-obatan terlarang.
  6. Melakukan tindakan penyimpangan seksual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku, misalnya pemerkosaan dan kumpul kebo.
  7. Melakukan tindakan kriminalitas lainnya, misalnya merampok, membunuh, dan mencuri.

Faktor-faktor penyebab terjadinya kenalakan remaja

Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum dapat dikelompokkan kedalam dua faktor yaitu sebagai berikut.

a. Faktor intern

  1. Faktor kepribadian.
  2. Faktor kondisi fisik.
  3. Faktor status dan peranannya di masyarakat.

b. Faktor ekstern

  1. Kondisi lingkungan keluarga.
  2. Kontak sosial dari lembaga masyarakat kurang baik atau kurang efektif.
  3. Kondisi geografis atau kondisi alam fisik.
  4. Faktor kesenjangan ekonomi dan disintegrasi politik.
  5. Faktor perubahan sosial yang begitu cepat.

c. Kriminalitas

Kriminalitas adalah suatu tindakan kejahatan yang secara tegas melanggar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, dan selalu membawa kerugian baik fisik maupun psikis, baik bagi dirinya atau orang lain.

Menurut E. H Sutherland, proses-proses sosial yang dapat menyebabkan seseorang menjadi penjahat atau melakukan tindakan kriminalitas yaitu sebagai berikut.

  1. Faktor imitasi.

  2. Kekecewaan yang luar biasa.

  3. Kompensasi.

  4. Identifikasi.

  5. Pelaksanaan peranan sosial.

Contoh-contoh tindakan kriminalitas kejahatan:

  1. Pencurian, perampokan, korupsi, dan pembunuhan.

  2. Penganiayaan, pelanggaran ekonomi, perdagangan gelap, penghianatan negara, penculikan, penggunaan obat terlarang dan penggunaan senjata api secara ilegal


Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done