Psikologi Kuno dan Modern - masrafli.com

Minggu, 29 Desember 2019

Psikologi Kuno dan Modern


Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri, sehingga mulai abad ke-20, terdapat lebih banyak aliran-aliran psikologi. Pada saat itu banyak ahli yang saling menyerang, saling menyalahkan, dan mempertahankan hasil penelitiannya sendiri-sendiri. 

Walaupun hasil penelitian mereka berbeda-beda, tetapi kenyataanya justru saling isi mengisi kekurangannya masing-masing, sehingga melahirkan psikologi modern dan corak yang sangat khusus.

Ada perbedaan yang mencolok antara psikologi kuno (sebelum tahun 1900), dengan psikologi modern (dalam abad ke-20), yaitu sebagai berikut :

Psikologi Kuno
1. Menerapkan metode ilmu kealaman, bekerja secara analistis dan sintetis, gejala psilistis-sintetis, gejala psimen terakhir. Metode tafsiran
2. Mencari hukum-hukum mekanis, misalnya asosiasi.
3. Berlangsungnya kehidupan psikis berdasarkan hukum kausal (sebab-akibat).
4. Peristiwa psikologis terjadi menurut hukum-hukum asosiasi, mekanistis, berlaku secara umum. Individu pasif, jiwa pasif.
5. Manusia tunduk pada segenap hukum-hukum alam yang ketat. Gejala jiwa bebas dari penilaian.
6. Gejala psikis (termasuk kesadaran) identik dengan obyek alam organik.
7. Tanggapan indera sebagai gejala-gehala yang paling elementer. Dari tanggapan dibangun gejala psikis yang lebih tinggi, misalnya pikiran. Ringkasnya, gejala psikis tergantung perangsang luar.
8. Gejala jiwa diukur secara kuantitas, dengan bantuan matematika. Contoh Weber Fechner, hasil akhir berupa gradasi/tingkat.

Psikologi Modern
1. Setiap gerakan psikis merupakan satu totalitas yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Menerapkan metode pamahaman berdasarkan wawasan.
2. Menemukan tipe-tipe, yaitu kelompok-kelompok individu dengan struktur psikis yang khusus.
3. Kehidupan psikis dikuasai ide-ide dan tujuan/teleologis.
4. Manusia aktif, gejala-gejala psikofisik mempunyai arti/makna tersendiri bagi kehidupan individu, yaitu mencapai tujuan tertentu, jiwa adalah tenaga yang mencipta.
5. Manusia adalah makhluk rohaniah, kehidupan hiwa diciptakan untuk tugas mewujudkan nilai-nilai budaya tertentu, misalnya seni, ilmu, dan lain-lain.
6. Gejala kesadaran berkaitan dengan Aku.
7. Pengamatan bukan penghayatan secara pasif dari perangsang luar, tetapi merupakan reaksi aktif dari totalitas kepribadian. Kemauan dan perasaan tidak selalu tergantung penginderaan, bahkan sebaliknya.
8. Gejala jiwa tidak dapat diukur secara tepat/eksak. Yang ada perbedaan gradasi dalam kualitas atau intensitas.
Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done