Peradaban Lembah Sungai Gangga: Peradaban, Pemerintahan, dan Kebudayaan - masrafli.com

Senin, 14 September 2020

Peradaban Lembah Sungai Gangga: Peradaban, Pemerintahan, dan Kebudayaan

Lembah Sungai Gangga terletak antara pegunungan Himalaya dan Pegunungan Windya-Kedna. Sungai itu bermata air di Pegunungan Himalaya dan mengalir melalui kota-kota besar, seperti Delhi, Agra, Allahabad, Patna, Benares melalui wilayah Bangladesh dan bermuara di Teluk benggala. Sungai Gangga bertemu dengan Sungai Kwenlun. Dengan keadaan alam seperti ini tidak heran bila lembah Sungai gangga sangat subur.




Pusat Peradaban

Pendukung peradaban Lembah Sungai gangga adalah bangsa Arya yang termasuk bangsa Indo-German. mereka datang dari daerah kaukasus dan menyebar ke arah timur. Bangsa Arya memasuki wilayah India antara tahun 2000-1500 SM, melalui celah kaiber di pegunungan Himalaya.

Mereka adalah bangsa peternak dengan kehidupannya yang terus mengembara. Namun, setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di lembah Sungai Shindu dan menguasai daerah yang subur, mereka akhirnya bercocok tanam dan hidup menetap. Selanjutnya, mereka menduduki lembah Sungai Gangga dan terus mengembangkan kebudayaan.

Pada dasarnya, peradaban dan kehidupan bangsa Hindu telah tercantum dalam kitab suci Weda, juga dalam kitab Brahmana dan Upanisad. Ketiga kitab itu menjadi dasar kehidupan orang-orang Hindu.

Kitab Weda merupakan kumpulan dari hasil pemikiran para pendeta. Pemikiran-pemikiran para pendeta itu dibukukan oleh Resi (pendeta) Wiyasa.

Ada empat bagian Kitab Weda, yaitu:
  1. Reg-Weda, berisi syair-syair pemujaan kepada dewa-dewa
  2. Sama-Weda, memuat nyanyian-nyanyian yang dipergunakan untuk memuja dewa-dewa
  3. Yayur-Weda, memuat bacaan-bacaan yang diperlukan untuk keselamatan
  4. Atharwa-Weda, memuat ilmu sihir untuk menghilangkan marabahaya
Keempat buku itu ditulis pada tahun 550 SM dalam bahasa Sansekerta.

Ajaran agama Hindu memuja banyak dewa (polytheisme). Dewa utama yang dipuja dalam agama Hindu adalah Dewa Brahmana sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara atau pelindung, Dewa Siwa sebagai penghancur. Di samping itu ada juga dewa-dewa lain, seperti Dewi Saraswati (Dewi Pendidikan), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewi Agni (Dewi Api), dan lain-lain.

Umat Hindu yang ada di India berziarah ke tempat-tempat suci seperti kota Benares, yaitu sebuah kota yang dianggap sebagai tempat bersemanyam Dewa Siwa. Sungai Gangga juga dianggap kramat dan suci oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan umat Hindu India, "air Sungai Gangga" dapat menyucikan diri manusia dan menghapus segala dosa.

Agama Budha muncul ketika beberapa golongan menolak dan menentang pendapat kaum Brahmana. Golongan ini dipimpin oleh Sidartha Gautama (531 SM). Sidartha Gautama adalah putra mahkota dari Kerajaan Kapilawastu (Suku Sakia). Ia termasuk kasta Ksatria. Setelah kurang lebih tujuh tahun mengalami berbagai cobaan berat, penyesalan dan penderitaan, akhirnya dia mendapat sinar terang di hati sanubarinya dan menjadi Sidartha Gautama Sang Budha (artinya Yang Disinari).

Pertama kali Sang Budha berkutbah di Taman Rusa (Benares). Agama Budha tidak mengakui kesucian Kitab Weda dan tidak mengakui aturan pembagian kasta di dalam masyarakat. Oleh karena itu, ajaran agama Budha sangat menarik bagi golongan kasta rendah. Kitab suci agama Budha bernama Tripitaka.


Pemerintahan

Kerajaan Gupta didirikan oleh Raja Candragupta I (320-330 M) dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Kerajaan Gupta mencapai masa yang paling gemilang ketika Raja Samudra Gupta (cucu Candagupta I) berkuasa. Ia menetap di kota Ayodhia sebagai ibu kota kerajaan.

Raja Samudragupta digantikan oleh anaknya yang bernama Candragupta II (375-415 M). Candragupta II terkenal sebagai Wikramaditiya. Pada masa pemerintahan Candragupta II terkenal seorang pujangga yang bernama Kalidasa dengan karangannya berjudul Syakuntala.

Setelah meninggalnya Candragupta II, Kerajaan Gupta mulai mundur. Bahkan, berbagai suku bangsa di Asia Tengah melancarkan serangan terhadap Kerajaan Gupta. Maka hampir dua abad, India mengalami masa kegelapan dan baru pada abad ke-7 SM tampil seorang raja kuat yang bernama Harshawardana.

Ibu kota kerajaan Harsa adalah Kanay. Pujangga yang terkenal di masa kekuasaan Harshawardana bernama Pujangga Bana dengan buku karangannya berjudul Harshacarita.

Setelah masa pemerintahan Raja Harshawardana hingga abad ke-11 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang berkuasa. India mengalami masa kegelapan pada saat itu.


Bentuk Kebudayaan

Kebudayaan Lembah Sungai Gangga merupakan campuran antara kebudayaan bangsa Arya dengan bansa Dravida. Kebudayaan ini lebih dikenal dengan kebudayaan Hindu. Daerah-daerah yang diduduki oleh bangsa Indo-Arya sering disebut dengan Arya Varta (Negeri Bangsa Arya) atau Hindustan (tanah milik bangsa Hindu). Bangsa Dravida mengungsi ke daerah selatan, kebudayaanya kemudian dikenal dengan nama kebudayaan Dravida.

Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done