Latar Belakang dan Sebab Kebangkitan Nasionalisme Indonesia - masrafli.com

Minggu, 04 Oktober 2020

Latar Belakang dan Sebab Kebangkitan Nasionalisme Indonesia

Pergerakan Nasionalisme Indonesia muncul bersamaan dengan kebangkitan nasionalisme Asia yang dianggap sebagai reaksi terhadap imperialisme (penjajahan) Barat. Reaksi tersebut terbagi dalam dua reaksi yaitu sebagai berikut.

  1. Reaksi Nasionalisme-Zelotisme adalah reaksi atau sikap rakyat yang terjajah selama berpuluh-puluh tahun oleh bangsa Barat. Bangsa-bangsa terjajah tersebut bersikap "menutup pintu daerah rapat-rapat" terhadap pengaruh bangsa BArat (politik isolasi)
  2. Reaksi Nasionalisme-Herodianisme. Kaum nasionalis-herodian mempunyai cara-cara tersendiri dalam menghadapi penjajah. Reaksi herodian dapat juga dinamakan perlawanan aktif yaitu dengan menentang pengaruh-pengaruh penjajah dengan menggunakan alat-alat dan senjata dari penjajah sendiri.
<a href="http://www.freepik.com">Designed by Freepik</a>


Sebab Kebangkitan Nasionalisme

Alasan utama mengapa bangsa Indonesia memberikan reaksi perlawanan dan menggalang semangat nasionalisme adalah penindasan, ketidakadilan, dan pemerkosaan terhadap hak asasi rakyat secara keji serta sikap diskriminatif yang menjijikan dari pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang melukai hati dan harga diri rakyat Indonesia menimbulkan dendam yang tak pernah pudar. Contoh konkret adalah kerakusan dan kekejian Belanda terlihat selama pelaksanaan sistem tanam paksa yang dimulai diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1830.

1. Dampak Pendidikan Luar Negeri 

Selain tindakan yang keji dan kotor dari pemerintah kolonial, ternyata pendidikan yang dialami oleh putra-putra Indonesia di luar negeri membangkitkan semangat baru untuk mengusir penajjah. Dalam hal ini para pelajar di luar negeri mengobarkan semangat rasa tidak puas terhadap pemerintah kolonial. Secara serentak kaum terpelajar tersebut menerima tanggung jawab menjadi pemimpin organisator semangat nasionalisme rakyat Indonesia.

2. Islam sebagai Pemersatu

Mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum Muslim. Dengan jumlah yang sedemikian besar, ternyata Islam merupakan satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Karena bagaimanapun para pemimpin nasional akan sangat mudah untuk memobilisasikan kekuatan Islam sebagai alasan dalam menghimpun kekuasaan.

3. Bahasa Melayu

Di samping mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, Indonesia pun memiliki bahasa pergaulan umum (lingua franca), yaitu Bahasa Melayu. Dalam sejarah perkembangannya Bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia, setelah dikeramatkan dalam trilogi Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, Bahasa Melayu menjadi sara penting untuk mensosialisasikan gagasan dan semangat kebangsaan dan nasionalsime ke seluruh pelosok Indonesia.

4. Dominasi Ekonomi Kaum

Kekesalan pedagang pribumi ditujukan langsung terhadap kaum pedagang keturunan nonpribumi khususnya kaum pedagang Tionghoa. Kristalisasi kekesalan kaum pedagang pribumi mencapai titik kuliminasi ketika kaum Tionghoa mendirikan perguruannya sendiri, yaitu Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Peristiwa itu mendorong persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama-sama pengaruh dari pedagang yang bukan pribumi, khususnya kaum pedagang keturunan Tionghoa.

5. Perkembangan Komunikasi dan Media

Makin lancar sehingga rakyat main cepat mengetahui keadaan politik sesunguhnya yang terjadi di Belanda pada satu pihak dan di pihak lain, rakyat dalam waktu singkat dapat mengetahui sikap-sikap yang kurang adil dan kejam dari pejabat dan pegawai Belanda.

6. Politik Etis

Condrad Theodore van Deventer adalah orang Belanda yang bekerja di Indonesia. Pada tahun 1899 menulis karangan yang berjudul Gen Ereschul (Utang Budi). Akibat dari diberlakukannya Undang-Undang Agraria tahun 1870, rakyat Indonesia makin miskin dan menderita, sedangkan Belanda memperoleh keuntungna kas yang kosong akibat perang. Oleh sebab itu, Condrad Theodore van Deventer mendesak untuk dilaksanakan politik etika di Indonesia, yaitu politik yang harus dilaksanakan untuk mendidik dan memakmurkan bangsa Indonesia.

Secara tidak langsung, politik etis berhasil mengkristalkan rasa dendam bangsa Indonesia terhadap Belanda sejalan dengan kemajuan media, komunikasi, dan transportasi. Hal yang patut dicatat dalam politik etis adalah pembentukan Voslkraad atau Dewan Rakyat. Melalui Volskraad kaum intelektual pribumi yang mewakili rakyat Indonesia dipersatukan dari berbagai daerah. Dengan demikian, terbukalah kerja sama dan persatuan di antara mereka yang memikirkan cita-cita nasional bersama, yakni memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia.

7. Kemenangan Jepang atas Rusia

Di dalam perang Jepang-Rusia tahun 1904-1905 secara khusus telah memberikan dampak tersendiri terhadap arus pergerakan nasional di Indonesia. Bangsa Asia saja bisa menang dari Bangsa Barat, seperti itulah kira-kira.

8. Pengaruh Nasionalisme Negara-negara Tetangga

Negara-negara yang berpengaruh adalah Tiongkok, India, Filipina, Turki, dan Mesir.

Demikian artikel mengenai Prinsip Kritik Sastra. Anda dapat membagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat. Anda juga bisa berkomentar jika dirasa ada yang kurang jelas. Semoga bermanfaat untuk para pembaca dan Salam Literasi!



Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done